Menu

Dark Mode
Program MBG Berhasil Serap Hasil Produksi Petani Lokal MBG Serap Hasil Pertanian hingga Perkuat Ekonomi Desa  Program MBG dan Efek Berganda bagi Sektor Pertanian MBG sebagai Penggerak Ekosistem Pertanian Nasional Presiden Prabowo Dorong Ekonomi Biru lewat Penguatan Kampung Nelayan Kampung Nelayan Merah Putih Jadi Bagian Strategi Ekonomi Biru Prabowo

Berita

Soal Beda Data Kemiskinan, BPS: Kami Gunakan Standar Nasional

badge-check


					Soal Beda Data Kemiskinan, BPS: Kami Gunakan Standar Nasional Perbesar

Jakarta – Perbedaan data jumlah penduduk miskin antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia disebabkan oleh perbedaan metodologi yang digunakan kedua lembaga. BPS menegaskan bahwa perbedaan angka tersebut tidak berarti data salah, melainkan karena masing-masing menggunakan acuan garis kemiskinan yang berbeda.

Bank Dunia mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 194,6 juta jiwa. Kenaikan signifikan ini terjadi setelah lembaga internasional tersebut memperbarui garis kemiskinan global dari Purchasing Power Parities (PPP) 2017 menjadi PPP 2021.

Di sisi lain, BPS masih menggunakan PPP 2017 sebagai dasar penghitungan. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penggunaan PPP 2017 merupakan bagian dari upaya menjaga konsistensi perencanaan nasional.

“Kami menyesuaikan metodenya, PPP-nya kami masih tetap, karena ini terkait dengan RPJMN 2025–2029, agar berkesinambungan kita untuk mengevaluasinya,” kata Ateng.

BPS dan Bank Dunia sejatinya sama-sama menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Namun, hasil yang berbeda muncul karena standar garis kemiskinan yang dijadikan tolok ukur tidak sama.

Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan ekstrem sebesar 3 dollar AS per kapita per hari berdasarkan PPP 2021. Sementara itu, BPS mengacu pada garis kemiskinan 2,15 dollar AS per kapita per hari sesuai PPP 2017. Menurut Ateng, BPS melakukan penghitungan berdasarkan standar yang ditetapkan secara nasional.

“Kalau Indonesia dan sebagian besar negara, kita melakukan penghitungan kemiskinan berdasarkan standar nasional. Nah, kalau World Bank itu melakukan penghitungan kemiskinannya, dia berdasarkan perbandingan global.” tuturnya.

Bank Dunia mulai memberlakukan PPP 2021 sejak Juni 2025, sebagaimana diumumkan dalam dokumen June 2025 Update to the Poverty and Inequality Platform (PIP) yang mengacu pada data terbaru dari International Comparison Program.

Dengan pendekatan yang konsisten dan relevan terhadap kondisi dalam negeri, BPS tetap memegang peran penting dalam menyediakan data kemiskinan nasional yang akurat dan mendukung perumusan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. **

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Program MBG Berhasil Serap Hasil Produksi Petani Lokal

13 May 2026 - 10:41

MBG Serap Hasil Pertanian hingga Perkuat Ekonomi Desa

13 May 2026 - 10:41

Presiden Prabowo Dorong Ekonomi Biru lewat Penguatan Kampung Nelayan

13 May 2026 - 10:41

Kampung Nelayan Merah Putih Jadi Bagian Strategi Ekonomi Biru Prabowo

13 May 2026 - 10:41

Kesehatan Berkualitas Diperluas lewat Aktifnya Program CKG di Segala Usia

13 May 2026 - 10:41

Trending on Berita