Menu

Dark Mode
Menjaga Papua Tetap Kondusif Saat Nataru, Tanggung Jawab Bersama Semua Elemen Gotong Royong Elemen Bangsa Memastikan Stabilitas Keamanan Papua Jelang Nataru Tokoh Agama dan FKDM Ajak Masyarakat Papua Jaga Kondusivitas Papua Jelang Perayaan Nataru  Tokoh Agama dan Masyarakat Ajak Jaga Kondusivitas Papua Jelang Nataru 2025 Penanganan Terpadu Pemerintah Dorong Pemulihan Sumatera Mengawal Ketegasan Presiden, Rantai Solidaritas Menjaga Sumatera

Berita

Masyarakat Harus Hormati Pemungutan Suara Ulang Sesuai Putusan Mahkamah Konstitusi

badge-check


					Masyarakat Harus Hormati Pemungutan Suara Ulang Sesuai Putusan Mahkamah Konstitusi Perbesar

Jakarta – Pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) dalam rangkaian Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 merupakan bagian dari mekanisme hukum yang harus dihormati oleh seluruh elemen masyarakat. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait PSU bukanlah bentuk ketidakpastian, melainkan manifestasi dari sistem demokrasi yang memberikan ruang koreksi demi menjamin keadilan dan integritas dalam proses pemilu.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Mochammad Afifuddin, menegaskan KPU siap menghadapi setiap gugatan hasil PSU yang diajukan ke MK. Ia menyatakan bahwa pelaksanaan PSU oleh jajaran KPU di daerah telah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Dari sisi penyelenggaraan, KPU meyakini teman-teman di daerah sudah sangat maksimal dalam menyelenggarakan PSU,” kata Afif.

Ditambahkannya bahwa KPU bersiap memberikan penjelasan dan jawaban dalam setiap proses persidangan di MK. Hal ini menunjukkan komitmen lembaga penyelenggara pemilu untuk menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas dalam setiap tahapan pilkada, termasuk jika hasil PSU kembali disengketakan.

Sementara itu, Mahkamah Konstitusi telah membacakan putusan sela (dismissal)_terhadap tujuh perkara perselisihan hasil PSU Pilkada 2024. Dari tujuh perkara tersebut, hanya dua yang dinyatakan layak dilanjutkan ke tahap pembuktian, yakni perkara dari Kabupaten Barito Utara dan Kabupaten Kepulauan Talaud.

Ketua MK, Suhartoyo, menyampaikan bahwa para pihak dalam perkara tersebut dapat menghadirkan maksimal empat orang saksi atau ahli pada sidang pembuktian yang dijadwalkan pada 8 Mei 2025. Daftar saksi dan bukti tambahan harus diserahkan paling lambat satu hari sebelum sidang.

“Untuk para pihak yang lanjut perkaranya, bisa mengajukan saksi dan ahli. Mau digabung atau masing-masing boleh, yang penting jumlahnya tidak lebih dari empat,” ungkap Suhartoyo.

Putusan MK ini sekaligus menegaskan bahwa tidak semua gugatan akan diterima jika tidak memenuhi syarat formil dan materil. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak terprovokasi oleh narasi yang melemahkan kepercayaan terhadap proses hukum yang sedang berjalan.

Dalam negara hukum yang demokratis, menghormati putusan lembaga peradilan adalah bentuk kedewasaan berdemokrasi. Masyarakat di daerah-daerah yang melaksanakan PSU maupun yang perkaranya tidak dilanjutkan oleh MK, sepatutnya menjaga ketertiban dan kondusivitas, serta terus mendukung penyelenggaraan pilkada yang jujur dan adil demi kemajuan daerah masing-masing.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

 Tokoh Agama dan Masyarakat Ajak Jaga Kondusivitas Papua Jelang Nataru 2025

16 December 2025 - 09:44

Tokoh Agama dan FKDM Ajak Masyarakat Papua Jaga Kondusivitas Papua Jelang Perayaan Nataru

16 December 2025 - 09:44

Pemulihan Bencana Sumatera Dipercepat, Presiden Prabowo Kerahkan Semua Kekuatan

16 December 2025 - 09:44

Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Mampu Tangani Bencana Sumatra, Tolak Bantuan Asing

16 December 2025 - 09:44

Presiden Prabowo Pastikan Kebutuhan Dasar Korban Bencana Sumatera Terpenuhi

16 December 2025 - 09:44

Trending on Berita