Menu ✖

Dark Mode
Tokoh Adat Papua Kecam Penembakan Tiga Warga Sipil di Muliama Tokoh Adat Papua: Aksi OPM Tembak Warga Sipil Tak Manusiawi Tokoh Papua Bersatu Kecam Kekerasan dan Serukan Perdamaian Kecam Penembakan di Muliama, Tokoh Adat Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Kedamaian Pemerintah Siapkan Bansos Digital agar Bantuan Sosial Lebih Tepat Sasaran Bansos Digital Nasional Ditargetkan Meluncur pada Oktober 2026

Berita

Jelang Dua Tahun Prabowo-Gibran, Investasi Didorong Ciptakan Ekonomi yang Lebih Inklusif

badge-check


					Jelang Dua Tahun Prabowo-Gibran, Investasi Didorong Ciptakan Ekonomi yang Lebih Inklusif Perbesar

JAKARTA — Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, investasi semakin menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi Indonesia. Arah kebijakan pemerintah dinilai tidak sekadar mengejar peningkatan investasi, tetapi juga memastikan masuknya modal mampu menciptakan lapangan kerja dan memperluas manfaat pembangunan.

Hal tersebut disampaikan dalam talkshow di salah satu stasiun televisi swasta nasional yang membahas perkembangan ekonomi Indonesia menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Tenaga Ahli Bakom RI Fithra Faisal, Ph.D. dan Pakar Ekonomi Universitas Indonesia Prof. Telisa Falianty menyoroti perubahan struktur pertumbuhan, perkembangan investasi, stabilitas ekonomi, hingga pemerataan manfaat pembangunan.

Tenaga Ahli Bakom RI Fithra Faisal, Ph.D. mengatakan struktur pertumbuhan ekonomi mulai mengalami perubahan, dari sebelumnya lebih banyak ditopang konsumsi menuju penguatan investasi. Perubahan tersebut terlihat sejak kuartal IV 2025 hingga kuartal I dan II 2026.

“Komponen utama pertumbuhan ekonomi sudah mulai berubah. Konsumsi kita masih sekitar 5 persen, tetapi sudah mulai ditopang oleh pergerakan investasi. Maka kita bisa melihat di situ ada transformasi,” ujar Fithra Faisal, Ph.D.

Menurut Fithra, peluang investasi juga masih terbuka seiring komitmen investasi dari sejumlah negara, antara lain Jepang, Jerman, Prancis, Rusia, dan China. Potensi tersebut dinilai dapat memperkuat pembangunan berbasis nilai tambah.

“Investasi yang besar menunjukkan bahwa roadmap pembangunan bangsa ke depan berbasis nilai tambah, tetapi investasi juga harus mendatangkan ekonomi yang inklusif,” tegas Fithra Faisal, Ph.D.

Sementara itu, Prof. Telisa Falianty menilai stabilitas ekonomi menjadi modal penting untuk memperluas dampak kebijakan pemerintah. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi dapat dijaga di atas 5 persen, sementara inflasi dan tingkat pengangguran juga relatif terkendali.

“Secara makro tiga variabel utama yang konvensional bisa dibilang baik. Tinggal bagaimana kebijakan tersebut semakin dirasakan masyarakat di tingkat mikro,” ujar Prof. Telisa Falianty.

Telisa menambahkan, pemerintah perlu memperkuat pengawasan di lapangan, terutama terkait penciptaan lapangan kerja, kemudahan investasi, dan perlindungan UMKM.

“Program dan kebijakan di level makro sudah banyak. Pemerintah perlu lebih banyak melihat di lapangan agar multiplier effect-nya benar-benar dirasakan masyarakat,” tutup Prof. Telisa Falianty. (*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Tokoh Adat Papua Kecam Penembakan Tiga Warga Sipil di Muliama

25 September 2026 - 13:21

Tokoh Adat Papua: Aksi OPM Tembak Warga Sipil Tak Manusiawi

25 September 2026 - 13:21

Pemerintah Siapkan Bansos Digital agar Bantuan Sosial Lebih Tepat Sasaran

25 September 2026 - 13:21

Bansos Digital Nasional Ditargetkan Meluncur pada Oktober 2026

25 September 2026 - 13:21

Presiden Prabowo Dorong Bensin Batubara untuk Perkuat Kemandirian Energi Nasional

25 September 2026 - 13:21

Trending on Berita