Menu

Dark Mode
Menjaga Papua Tetap Kondusif Saat Nataru, Tanggung Jawab Bersama Semua Elemen Gotong Royong Elemen Bangsa Memastikan Stabilitas Keamanan Papua Jelang Nataru Tokoh Agama dan FKDM Ajak Masyarakat Papua Jaga Kondusivitas Papua Jelang Perayaan Nataru  Tokoh Agama dan Masyarakat Ajak Jaga Kondusivitas Papua Jelang Nataru 2025 Penanganan Terpadu Pemerintah Dorong Pemulihan Sumatera Mengawal Ketegasan Presiden, Rantai Solidaritas Menjaga Sumatera

Berita

Tokoh Muhammadiyah dan NU Sepakat Soeharto Sosok Layak Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

badge-check


					Tokoh Muhammadiyah dan NU Sepakat Soeharto Sosok Layak Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Perbesar

Jakarta – Menghormati jasa pemimpin dan pahlawan merupakan ciri bangsa yang besar. Prinsip ini kembali menguat seiring tingginya dukungan terhadap penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, yang dinilai telah memberikan kontribusi monumental bagi bangsa sejak masa revolusi hingga era pembangunan.

Pimpinan Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Dr. Makroen Sanjaya, menegaskan bahwa keteladanan seorang pemimpin harus dinilai secara utuh dan komprehensif. “Muhammadiyah sudah mengkaji dari ketokohan beliau sebagai Presiden ke-2. Kita menilai sosok secara komprehensif, tidak bisa sepotong-sepotong,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa sejarah mencatat Soeharto berperan sejak 1946, menanggulangi pemberontakan kelompok kiri, memimpin Serangan Umum 1 Maret, hingga menjadi tokoh penting dalam penuntasan konflik G30S/PKI.

Menurut Dr. Makroen, rekam jejak tersebut memenuhi kriteria kepahlawanan sebagaimana diatur dalam undang-undang, yakni memiliki pengorbanan besar dan prestasi nyata untuk bangsa. “Beliau pernah mengantarkan bangsa ini mencapai swasembada pangan dan mendapat pengakuan dunia. Itu pencapaian yang bisa diukur dan diakui secara internasional,” tegasnya.

Ia menilai bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pemimpin yang telah berjasa, bukan sekadar mengingat kekurangannya. Dengan filosofi Jawa mikul dhuwur, mendhem jero, Dr. Makroen menegaskan bahwa keteladanan harus diangkat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. “Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi kalau kita hanya mencari-cari kesalahan masa lalu, tentu kita tidak akan maju,” jelasnya.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan tokoh NU yang juga Wakil Sekjen MUI, KH Arif Fahrudin. Menurutnya, definisi pahlawan sangat jelas: berjasa besar dan rela berkorban untuk bangsa. “Pahlawan itu mereka yang menyerahkan segala yang dimiliki demi satu tujuan bersama—kemajuan bangsa dan negara,” katanya. Karena itu, ia menilai wajar jika tokoh seperti Soeharto dinominasikan sebagai Pahlawan Nasional, mengingat kontribusi besarnya baik pada masa revolusi, pembangunan nasional, maupun stabilitas negara.

KH Arif mengingatkan bahwa bangsa yang tidak menghargai sejarah tidak akan mampu meraih masa depan. “Kalau kita tidak pandai bersyukur terhadap jasa para pendiri dan pemimpin bangsa, maka 2045 kita tidak akan mampu meraih Indonesia Emas,” ujarnya.

Kedua tokoh sepakat bahwa generasi muda harus meneladani semangat keberanian, pengorbanan, dan prestasi para pemimpin terdahulu. Penghormatan terhadap jasa pahlawan bukan sekadar mengenang, tetapi juga meneruskan jejak mereka membangun bangsa.

Dengan pengakuan sejarah, rekam jejak pengabdian, dan prestasi yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat, banyak pihak menilai Presiden ke-2 Soeharto layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Karena bangsa besar adalah bangsa yang tidak melupakan mereka yang telah mengorbankan tenaga, waktu, dan hidupnya untuk kejayaan Indonesia.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

 Tokoh Agama dan Masyarakat Ajak Jaga Kondusivitas Papua Jelang Nataru 2025

16 December 2025 - 09:44

Tokoh Agama dan FKDM Ajak Masyarakat Papua Jaga Kondusivitas Papua Jelang Perayaan Nataru

16 December 2025 - 09:44

Pemulihan Bencana Sumatera Dipercepat, Presiden Prabowo Kerahkan Semua Kekuatan

16 December 2025 - 09:44

Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Mampu Tangani Bencana Sumatra, Tolak Bantuan Asing

16 December 2025 - 09:44

Presiden Prabowo Pastikan Kebutuhan Dasar Korban Bencana Sumatera Terpenuhi

16 December 2025 - 09:44

Trending on Berita