Menu

Dark Mode
Permen Komdigi 9/2026 Terbit, Pemerintah Perkuat Perlindungan Anak di Dunia Digital Pemerintah Turun Tangan, Hadapi Ancaman Dunia Maya Bagi Anak Permen Komdigi 9/2026 Pastikan Anak-Anak Terlindungi di Setiap Klik Permen Komdigi 9/2026 Jawaban atas Keresahan Jutaan Orang Tua Indonesia Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Perangi Korupsi Pemerintah Berkolaborasi Tanamkan Nilai Antikorupsi sejak Dini

Opini

RI Terdepan Cegah Karhutla di Tengah Krisis Global

badge-check


					RI Terdepan Cegah Karhutla di Tengah Krisis Global Perbesar

Jakarta – Indonesia kembali menunjukkan kepemimpinannya dalam pengendalian perubahan iklim global. Di tengah kekhawatiran atas meningkatnya kebakaran hutan tropis dunia, Pemerintah Indonesia justru mencatatkan capaian positif dalam menurunkan laju kehilangan hutan primer. Di tingkat daerah, langkah antisipatif terus dilakukan, salah satunya oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat yang kini menetapkan lebih dari 300 titik rawan karhutla untuk dipantau secara intensif.

“Kami telah memetakan wilayah rawan dan titik-titik tersebut tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Kalbar. Selama musim panas ini, petugas kami rutin melakukan patroli sebagai bentuk pencegahan,” kata Ketua Satgas Informasi BPBD Kalbar, Daniel.

Langkah ini menjadi bagian dari respons nasional terhadap tren global yang mengkhawatirkan. Laporan analisis satelit terbaru mengungkap bahwa pada tahun 2024, hutan primer dunia mengalami kehilangan seluas 67.000 kilometer persegi—setara 18 lapangan sepak bola setiap menit. Kebakaran menjadi penyebab dominan, melampaui alih fungsi lahan untuk pertanian.

Profesor Matthew Hansen dari University of Maryland bahkan menyebut potensi “savannisasi” hutan hujan kini makin nyata.

“Gagasan tentang titik kritis semakin masuk akal,” ujarnya seraya menyoroti dampak lanjutan berupa pelepasan karbon dalam jumlah besar.

Namun Indonesia tampil berbeda. Data dari World Resources Institute (WRI) menunjukkan kehilangan hutan primer di Indonesia turun 11% dibanding tahun sebelumnya, meskipun dilanda kekeringan. Elizabeth Goldman dari Global Forest Watch menyebut Indonesia sebagai “titik terang dalam data 2024”.

Capaian ini diperkuat melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Program larangan pembakaran hutan, patroli rutin, serta inisiatif seperti Desa Bebas Api terus digencarkan.

Langkah Indonesia juga menjadi sorotan menjelang KTT Iklim PBB COP30 yang akan digelar di Amazon. Rod Taylor dari WRI menyebut bahwa negara seperti Indonesia layak mendapatkan dukungan melalui skema imbal jasa lingkungan.

“Kita harus ubah logika ekonomi global. Saat ini, menebang hutan lebih menguntungkan daripada menjaga. Itu yang harus kita balik,” ujarnya.

Dengan kesiapsiagaan seperti di Kalbar dan keberhasilan menurunkan deforestasi, Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas lingkungan domestik, tapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masa depan planet ini.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Permen Komdigi 9/2026 Jawaban atas Keresahan Jutaan Orang Tua Indonesia

14 March 2026 - 22:38

Permen Komdigi 9/2026 Pastikan Anak-Anak Terlindungi di Setiap Klik

14 March 2026 - 22:38

Kepemimpinan Presiden Prabowo: Tidak Ada Kompromi Soal Korupsi

14 March 2026 - 22:37

Dari Teori ke Aksi: Pemerintah Perkuat Pendidikan Antikorupsi

14 March 2026 - 22:37

MBG Peringkat 2 Global: Bukti Komitmen Pemerintah pada Gizi Anak Diakui Dunia

14 March 2026 - 22:37

Trending on Opini