Menu

Dark Mode
Pemerintah Percepat Penanganan Gempa NTT melalui Penguatan Satgas Terpadu Satgas Gempa NTT Kawal Penanganan Korban hingga Tahap Rehabilitasi Satgas Terpadu Gempa NTT Tegaskan Negara Hadir Lindungi Seluruh Pengungsi Negara Hadir, Harapan Penyintas Gempa NTT Terus Menyala Presiden Prabowo Percepat Sekolah Rakyat Permanen untuk Perluas Akses Pendidikan Sekolah Rakyat Beroperasi di Ratusan Titik, Pemerintah Perluas Akses Pendidikan

Berita

Rasio Utang Indonesia Dinilai Tetap Sehat Berkat Kehati-hatian Fiskal

badge-check


					Rasio Utang Indonesia Dinilai Tetap Sehat Berkat Kehati-hatian Fiskal Perbesar

JAKARTA — Pemerintah memastikan rasio utang Indonesia tetap berada pada level yang aman dan terkendali di tengah dinamika ekonomi global. Kebijakan fiskal yang disiplin serta pengelolaan pembiayaan yang prudent dinilai menjadi faktor utama yang menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan posisi utang pemerintah saat ini masih berada dalam batas yang sangat aman dan dikelola secara hati-hati. Menurutnya, rasio utang Indonesia berhasil dijaga di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mencerminkan kredibilitas kebijakan fiskal nasional.

“Posisi utang pemerintah saat ini masih berada dalam batas yang sangat aman dan terkelola dengan penuh kehati-hatian atau prudence,” ujar Purbaya.

Sementara itu, data terbaru Bank Indonesia menunjukkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Kuartal I 2026 tumbuh melambat seiring menurunnya rasio utang terhadap PDB. Posisi ULN Indonesia tercatat sebesar USD433,4 miliar atau hanya tumbuh 0,8 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Kuartal IV 2025 yang mencapai 1,9 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan perlambatan pertumbuhan ULN dipengaruhi oleh perkembangan utang sektor publik maupun sektor swasta.

Menurut Bank Indonesia, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi aliran modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Kondisi ini menunjukkan tingkat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia masih tetap terjaga.

Ramdan menambahkan, pemerintah mengelola utang secara cermat, terukur, dan akuntabel agar pembiayaan negara tetap produktif dan diarahkan untuk mendukung program prioritas nasional.

“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah dan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Bank Indonesia juga menilai struktur ULN Indonesia masih sehat. Hal itu terlihat dari rasio ULN terhadap PDB yang turun menjadi 29,5 persen pada Kuartal I 2026 dibandingkan 30 persen pada kuartal sebelumnya.

Pemerintah menilai keberhasilan menjaga rasio utang yang rendah menjadi sinyal positif bagi stabilitas eksternal Indonesia. Dengan sinergi kebijakan fiskal yang disiplin dan pengawasan ketat Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), APBN diharapkan terus berfungsi sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi nasional. (*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pemerintah Percepat Penanganan Gempa NTT melalui Penguatan Satgas Terpadu

20 August 2026 - 09:21

Satgas Gempa NTT Kawal Penanganan Korban hingga Tahap Rehabilitasi

20 August 2026 - 09:21

Presiden Prabowo Percepat Sekolah Rakyat Permanen untuk Perluas Akses Pendidikan

20 August 2026 - 09:21

Sekolah Rakyat Beroperasi di Ratusan Titik, Pemerintah Perluas Akses Pendidikan

20 August 2026 - 09:21

Pemerintah Targetkan BUMN Lebih Ramping, Sehat, dan Produktif pada Akhir 2026

20 August 2026 - 09:21

Trending on Berita