Menu ✖

Dark Mode
Program MBG Menjadi Fondasi Strategis Generasi Emas dan Pemerataan Ekonomi Nasional Peningkatan Kualitas MBG sebagai Investasi Gizi dan Pendidikan Karakter Anak Indonesia Mengapresiasi Pembenahan Tata Kelola MBG untuk Pelayanan yang Lebih Baik Dua Tahun Prabowo-Gibran, Perluasan MBG Perkuat Pemerataan Gizi di Papua Dua Tahun Prabowo-Gibran, MBG Perluas Jangkauan hingga Papua Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pemerintah Perluas Akses Gizi di Papua melalui MBG

Berita

Perkuat Kebersamaan, Wujudkan Ramadan yang Aman dan Kondusif

badge-check


					Perkuat Kebersamaan, Wujudkan Ramadan yang Aman dan Kondusif Perbesar

Jakarta – Menyambut bulan suci Ramadan, berbagai elemen masyarakat diajak untuk bersama-sama menjaga kondusivitas, memperkuat persatuan, dan menciptakan suasana yang aman, damai, serta penuh toleransi.

Direktur Eksekutif Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB), Wawan Gunawan mengatakan realitas toleransi di Indonesia menunjukkan dinamika yang perlu disikapi secara objektif. Di satu sisi, masih terdapat sejumlah peristiwa yang mencerminkan tantangan dalam menjaga kerukunan.

“Ya, tentu ada sisi baik, sisi buruknya ya, kita melihat ada banyak peristiwa tentang intoleransi di beberapa tempat seperti penutupan rumah ibadah, pelarangan acara Natal, kita tidak boleh menutup mata. Itu terjadi di Indonesia ini. Tetapi juga ada banyak praktek baik yang ada di Indonesia. Tapi saya juga banyak menyaksikan, di mana ada masjid dan gereja satu tembok, mereka bekerja sama membersihkan halaman,” ujar Wawan.

Tradisi gotong royong seperti kegiatan bersih desa menjelang bulan Ramadan juga melibatkan seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama. Hal ini mencerminkan kuatnya nilai kolektivitas dan kepedulian sosial yang menjadi perekat kehidupan bermasyarakat.

“Atau dalam konteks bulan puasa ya, di desa-desa itu ada praktek bersih-bersih desa. Dimana yang terlibat dalam bersih-bersih desa itu, semua agama terlibat. Karena concern-nya adalah desa kami harus bersih,” lanjutnya.

Lanjut Wawan, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan alami untuk mencintai harmoni. Perbedaan yang ada di Indonesia bukanlah fenomena baru, melainkan realitas yang telah hadir sejak lama dalam perjalanan bangsa.

“Bahwa pada dasarnya orang Indonesia itu mencintai harmoni. Jadi, kan perbedaan di Indonesia itu bukan barang baru, sesuatu yang sudah lama ada,” ujarnya.

Dalam konteks kondusivitas saat ramadan, penting untuk kembali menghidupkan memori kolektif akan kearifan lokal yang menekankan nilai keguyuban dan kebersamaan. Ramadan dapat menjadi momentum yang relevan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut.

“Nah, Ramadan ini, bulan puasa ini mudah-mudahan menjadikan masyarakat kembali guyub. Karena nanti ada taraweh bersama, ada ngabuburit bersama, ada saling mengunjungi. Jadi, bulan puasa ini menjadi momentum keagamaan bagi muslim, tapi juga menjadi momentum kultural bagi semua penduduk Indonesia,” ujar Wawan.

Melalui semangat gotong royong dan toleransi, Ramadan diharapkan menjadi momentum memperkuat harmoni nasional. Dengan kebersamaan seluruh elemen bangsa, suasana yang damai dan penuh keberkahan dapat terjaga, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk sekaligus mempererat persaudaraan dalam bingkai persatuan Indonesia.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran, MBG Perluas Jangkauan hingga Papua

8 October 2026 - 06:41

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pemerintah Perluas Akses Gizi di Papua melalui MBG

8 October 2026 - 06:41

BGN Perbaharui PKS dengan Mitra Pengelola Dapur SPPG Demi Perbaikan Tata Kelola

8 October 2026 - 06:41

Dua Tahun Prabowo-Gibran, MBG Jadi Bukti Program Prioritas Berorientasi Rakyat

8 October 2026 - 06:41

BGN Hadirkan 13 SPPG Baru untuk Perluas Jangkauan MBG di Papua

8 October 2026 - 06:41

Trending on Berita