Menu ✖

Dark Mode
Topeng Perjuangan dan Air Mata Perempuan Jila Presiden Prabowo Beri Subsidi Haji 2027 untuk Ringankan Beban Jemaah Pemerintah Ringankan Beban Pelunasan Jemaah lewat Subsidi Haji 2027 Pemerintah Siapkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Berkapasitas 7 GW Listrik Tenaga Nuklir Digarap Bertahap untuk Perkuat Bauran Energi Nasional Pemerintah Siaga Hadapi Bencana Hidrometeorologi saat El Nino Masih Mengintai

Opini

Pemerintah Fokus Rehabilitasi Aceh, Waspadai Normalisasi Simbol Separatis di Ruang Publik

badge-check


					Pemerintah Fokus Rehabilitasi Aceh, Waspadai Normalisasi Simbol Separatis di Ruang Publik Perbesar

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat rehabilitasi wilayah Aceh pascabanjir sekaligus mewaspadai munculnya praktik-praktik yang berpotensi mengganggu stabilitas, termasuk upaya normalisasi simbol separatisme di ruang publik. Pendekatan pemulihan kemanusiaan dan penjagaan kedaulatan nasional dinilai harus berjalan beriringan.

Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an, mengingatkan pemerintah agar bersikap tegas terhadap praktik pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia menegaskan bahwa secara historis, bendera GAM merupakan identitas gerakan separatis bersenjata yang pernah mengancam kedaulatan negara.

Menurutnya, simbol tersebut tidak dapat dipandang sebagai ekspresi budaya semata, melainkan simbol politik separatis.

“Karena itu, kemunculannya di ruang publik tidak boleh dinormalisasi,” ujar Ali dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (26/12). Ia menilai pengibaran simbol tersebut mengindikasikan masih adanya separatisme laten yang tidak boleh diberi ruang pembenaran oleh negara. Jika dibiarkan, hal itu berpotensi memicu efek domino dan membuka kembali narasi konflik lama.

Di sisi lain, kehadiran negara dalam penanganan bencana di Aceh mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Warga Kabupaten Aceh Tamiang menyampaikan terima kasih atas bantuan logistik dan penanganan cepat pascabanjir yang melanda sejumlah kecamatan.

Sejak fase tanggap darurat, pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah menyalurkan bantuan bahan pangan, air bersih, perlengkapan kebersihan, selimut, hingga layanan kesehatan keliling.

“Bantuan datang tepat waktu dan sangat membantu kami yang sempat kesulitan air bersih dan makanan,” ujar Abdullah (45), warga Kecamatan Karang Baru, Jumat (26/12). Ia menambahkan, koordinasi aparat di lapangan membuat penyaluran logistik berjalan tertib. “Kami merasa tidak ditinggalkan. Pemerintah hadir sejak awal,” katanya.

Apresiasi serupa disampaikan Nuraini (38), warga Kecamatan Manyak Payed. Menurutnya, dapur umum dan pos layanan kesehatan meringankan beban keluarga terdampak. “Anak-anak bisa mendapatkan makanan dan pemeriksaan kesehatan. Ini penting setelah banjir,” ucapnya.

Pemerintah daerah kini memfokuskan langkah pada pembersihan lingkungan, pemulihan akses jalan, serta normalisasi layanan dasar.

Dari sisi pusat, pemerintah memastikan pendampingan berlanjut hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pemetaan kerusakan rumah, fasilitas umum, dan lahan pertanian. *

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Topeng Perjuangan dan Air Mata Perempuan Jila

12 October 2026 - 09:51

Pemerintah Siaga Menghadapi Risiko Ganda Bencana Hidrometeorologi

12 October 2026 - 09:51

Energi Nuklir Membuka Babak Baru Listrik Bersih dan Stabil

12 October 2026 - 09:51

Mengelola Listrik dari Energi Nuklir Secara Aman demi Ketahanan Nasional

12 October 2026 - 09:51

Napas Lega Menuju Tanah Suci, Negara Beri Subsidi Haji 2027

12 October 2026 - 09:51

Trending on Opini