Menu

Dark Mode
Pemerintah Perluas Program CKG, 14 Juta Anak Disasar pada 2026 Hilirisasi Menuju Pertanian Bernilai Tinggi   Triple Helix Pertanian: Hilirisasi Hasil Sinergi Pemerintah, Akademisi, dan Industri     Pemerintah Genjot Hilirisasi dari Laboratorium ke Industri Pemerintah Perkuat Ekosistem Hilirisasi Pertanian Tidak Hanya Fisik, Program CKG Jangkau Kesehatan Jiwa Anak

Berita

Narasi ‘Indonesia Gelap’ Terbukti Menyesatkan

badge-check


					Narasi ‘Indonesia Gelap’ Terbukti Menyesatkan Perbesar

JAKARTA – Di tengah dinamika global dan tantangan ekonomi nasional, narasi pesimistik bertajuk “Indonesia Gelap” dinilai sebagai bentuk provokasi yang menyesatkan dan berpotensi memecah belah bangsa. Sejumlah tokoh nasional menegaskan pentingnya membangun optimisme kolektif sebagai kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, menyampaikan bahwa masyarakat harus cerdas dalam menyikapi berbagai narasi yang beredar di ruang publik. Ia menekankan bahwa ajaran agama mengajarkan umat untuk saling menguatkan, bukan saling menyalahkan. Menurutnya, narasi pesimisme seperti “Indonesia Gelap” justru menghambat semangat gotong royong dan pembangunan.

“Masyarakat harus bijak. Keinginan manusia memang tidak terbatas, namun kemampuan dan anggaran negara tentu terbatas. Di sinilah pentingnya keseimbangan antara keinginan dan kenyataan,” ujar KH. Marsudi.

Lebih lanjut, ia mengapresiasi sikap transparan pemerintah dalam menyampaikan tantangan serta strategi pembangunan ke depan. Ia menilai Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan komitmen kuat terhadap optimisme nasional dengan pendekatan yang realistis namun penuh harapan.

“Pemerintah sudah terbuka, menjelaskan tantangan dan strategi secara jujur. Jangan sampai kita terpancing narasi negatif yang hanya menumbuhkan rasa takut dan perpecahan,” lanjutnya. Ia juga mengingatkan pentingnya bersyukur dalam keterbatasan, demi menemukan solusi bersama.

Senada dengan itu, pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Dr. Aditya Perdana, menekankan pentingnya menjaga keutuhan bangsa melalui sinergi yang kuat antara masyarakat dan pemerintah. Ia menyebut keberhasilan Presiden Prabowo dalam merangkul kekuatan politik nasional sebagai fondasi untuk menciptakan pemerintahan yang inklusif dan stabil.

“Presiden Prabowo telah menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik. Ini mencerminkan demokrasi yang sehat. Justru yang diperlukan saat ini adalah komunikasi jujur agar masyarakat tidak kecewa oleh ekspektasi yang terlalu tinggi,” jelas Aditya.

Ia juga mengingatkan bahwa kekompakan nasional saat menghadapi pandemi COVID-19 patut dijadikan contoh. Kala itu, kerja sama antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat mampu menghasilkan kebijakan yang efektif.

“Kita butuh kembali ke semangat seperti saat pandemi: gotong royong, komunikasi intensif, dan rasa saling percaya. Para kiai dari pusat hingga kampung saling bahu-membahu,” kenang KH. Marsudi.

Para tokoh sepakat bahwa kritik tetap diperlukan dalam demokrasi, namun harus disampaikan secara konstruktif dan tidak bersifat memecah belah. Semangat optimisme, persatuan, dan tanggung jawab bersama dinilai sebagai kunci menuju masa depan Indonesia yang lebih cerah dan sejahtera.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pemerintah Perluas Program CKG, 14 Juta Anak Disasar pada 2026

15 March 2026 - 13:14

Pemerintah Genjot Hilirisasi dari Laboratorium ke Industri

15 March 2026 - 13:14

Pemerintah Perkuat Ekosistem Hilirisasi Pertanian

15 March 2026 - 13:14

Tidak Hanya Fisik, Program CKG Jangkau Kesehatan Jiwa Anak

15 March 2026 - 13:14

Pemerintah Buka Tol Gratis dan Diskon Transportasi Lebaran 2026, Siap Antar Pemudik Pulang

15 March 2026 - 13:14

Trending on Berita