Menu ✖

Dark Mode
Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Mengurangi Kesenjangan Pembelajaran    Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Menjadi Fondasi Pemerataan Pendidikan     MBG 2.0 Menandai Peralihan dari Perluasan Menuju Penguatan Kualitas Keselamatan Anak Menjadi Ukuran Utama Keberhasilan MBG 2.0   Respons Cepat dan Terpadu Atasi Karhutla di Sejumlah Wilayah      Kerja Pemerintah dan Satgas Terus Diperkuat untuk Karhutla  

Berita

MBG 2.0 Diperkuat dengan Sinkronisasi Data dan Standar Sanitasi

badge-check


					MBG 2.0 Diperkuat dengan Sinkronisasi Data dan Standar Sanitasi Perbesar

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat transformasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui revolusi MBG 2.0 yang menitikberatkan pada sinkronisasi data penerima manfaat, peningkatan standar sanitasi, dan penguatan tata kelola.

Langkah ini dilakukan agar perluasan program berjalan seiring dengan peningkatan keamanan pangan dan ketepatan sasaran.

Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, mengatakan pelaksanaan MBG kini memasuki tahap pembenahan menyeluruh. Dengan 57.491.334 penerima manfaat, 1.027.998 tenaga kerja, dan 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi, kualitas pelayanan menjadi perhatian utama pemerintah.

“Pertanyaannya bukan lagi berapa banyak, tapi seaman apa? BGN mengambil keputusan besar, tidak sekadar memperbaiki, tapi merombak cara kerja,” tegas Tysa.

Tysa menjelaskan, BGN mewajibkan setiap SPPG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk memperkuat standar keamanan pangan. Pembaruan Perjanjian Kerja Sama (PKS) juga dilakukan guna memperjelas tanggung jawab dan meningkatkan akuntabilitas pelaksanaan program.

Selain sanitasi, sinkronisasi data penerima manfaat dengan kementerian dan lembaga terkait terus dilakukan agar penyaluran makanan sesuai kondisi di lapangan.

Penataan tersebut disertai refocusing penerima manfaat melalui Surat Penetapan Sementara (SPS) 1 dan 2.

“Kita ingin memastikan makanan yang disiapkan sesuai dengan penerima manfaat yang benar-benar ada di lapangan,” jelas Tysa.

Transformasi juga mencakup uji coba konsep prasmanan di 66 SPPG pada 10 provinsi serta penerapan label batas waktu aman konsumsi pada ompreng. BGN turut mengaktifkan hampir 1.500 SPPG di wilayah dengan tantangan geografis dan prevalensi stunting tinggi, termasuk 480 SPPG di Indonesia Timur dan 980 di Indonesia Tengah.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan percepatan aktivasi SPPG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dilakukan sesuai arahan Presiden. Ia meminta calon mitra mengajukan permohonan langsung kepada BGN tanpa menggunakan perantara.

Pemerintah juga mengubah skema insentif SPPG dari Rp6 juta per hari menjadi Rp2.000 per porsi untuk menyesuaikan biaya dengan jumlah makanan yang disalurkan.

Zulkifli menegaskan, persyaratan operasional, termasuk kepemilikan SLHS dan kepatuhan terhadap ketentuan keamanan pangan, menjadi bagian penting dalam menjaga mutu pelayanan.

Melalui MBG 2.0, pemerintah berupaya memastikan perluasan program disertai standar sanitasi, data yang akurat, serta pengawasan yang semakin kuat demi memberikan makanan bergizi yang aman dan tepat sasaran bagi anak Indonesia.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Diperluas untuk Pemerataan Pendidikan

27 October 2026 - 01:08

Pemerintah Dorong Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Wilayah 3T dan Daerah Terdampak Bencana

27 October 2026 - 01:08

Pemerintah Respons Masukan Publik lewat Pembenahan Program MBG 2.0

27 October 2026 - 01:08

Ratusan Hektare Karhutla Berhasil Dipadamkan, Penanganan Terus Berlanjut

27 October 2026 - 01:08

Pemerintah Perluas Operasi Karhutla hingga ke Luar Provinsi Prioritas

27 October 2026 - 01:08

Trending on Berita