Menu ✖

Dark Mode
Konsep Sekolah Rakyat Terintegrasi: Pendidikan Tak Lagi Terhambat Jarak dan Biaya Sekolah Rakyat Terintegrasi, Pendidikan yang Bermartabat Sekolah Rakyat Terintegrasi Dinilai Berhasil Tingkatkan Disiplin dan Kepercayaan Diri Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi Jakarta Tunjukkan Perkembangan Peserta Didik Pemerintah Siapkan Insentif Tekstil untuk Mendorong Ekspor dan Investasi Tax Holiday Industri Tekstil Dapat Menjadi Momentum Mendorong Investasi dan Lapangan Kerja

Berita

Literasi Digital Generasi Muda Jadi Fondasi Resiliensi Media Nasional

badge-check


					Literasi Digital Generasi Muda Jadi Fondasi Resiliensi Media Nasional Perbesar

Jakarta – Pemerintah mendorong penguatan literasi digital generasi muda sebagai fondasi resiliensi media nasional di tengah meningkatnya hoaks, disinformasi, manipulasi informasi, dan penyalahgunaan kecerdasan artifisial. Pelajar dinilai perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terprovokasi maupun ikut menyebarkan konten yang belum terverifikasi.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI Budi Muliawan mengatakan tantangan generasi muda saat ini berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Ancaman terhadap persatuan bangsa tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga bergerak melalui ruang digital dan memengaruhi cara masyarakat memahami suatu persoalan.

“Karakter kebangsaan tidak cukup dipelajari di dalam kelas, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk saat bermedia sosial. Salah satu bentuk bela negara di era digital adalah tidak mudah percaya pada hoaks dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujar Budi.

Menurutnya, Generasi Z merupakan kelompok yang tumbuh bersama internet sehingga memiliki peran besar dalam membentuk budaya komunikasi digital. Posisi tersebut membuat generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen dan penyebar konten yang dapat memengaruhi masyarakat luas.

Budi mengingatkan algoritma media sosial dapat menciptakan filter bubble dengan terus menampilkan konten yang sesuai kebiasaan pengguna. Kondisi itu berpotensi mempersempit sudut pandang, memperkuat prasangka, dan membuat seseorang lebih mudah menolak informasi yang berbeda.

Karena itu, pelajar perlu membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi, berdiskusi secara terbuka, serta menghargai perbedaan pendapat. Etika digital juga harus diterapkan dengan menghindari perundungan siber, ujaran kebencian, dan penyebaran konten negatif.

Penguatan nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dinilai menjadi benteng penting agar generasi muda mampu menggunakan kebebasan berekspresi secara bertanggung jawab. Nilai kebangsaan juga membantu pelajar memahami bahwa setiap aktivitas digital memiliki dampak sosial.

Pemerintah mendorong sekolah dan keluarga menyediakan pendampingan yang konsisten. Generasi muda juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan melalui kanal digital yang sehat, santun, dan terbuka.

Literasi digital yang kuat akan membentuk generasi yang mampu menjaga kualitas informasi, memperkuat kredibilitas media, serta melawan narasi yang memecah persatuan. Dengan keterlibatan aktif generasi muda, resiliensi media nasional dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana, yaitu berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menggunakan teknologi untuk pendidikan, kreativitas, serta kepentingan bangsa.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jelang 2 Tahun Prabowo, Asta Cita Didorong Jadi Semangat Membangun Negeri

26 September 2026 - 00:00

Konsep Sekolah Rakyat Terintegrasi: Pendidikan Tak Lagi Terhambat Jarak dan Biaya

26 September 2026 - 00:00

Jelang 2 Tahun Prabowo Menjadi Ruang Mengawal Asta Cita agar Tepat Sasaran

26 September 2026 - 00:00

Pemerintah Pastikan Stok BBM Aman di Tengah Ketidakpastian Minyak Dunia

26 September 2026 - 00:00

Jelang 2 Tahun Prabowo, Asta Cita Dianggap Bisa Gerakkan Ekonomi Masyarakat

26 September 2026 - 00:00

Trending on Berita