Jakarta – Menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global membutuhkan koordinasi kebijakan yang konsisten sekaligus penguatan sektor produktif dalam negeri.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Indonesia (FEB UKI), Prof. Wilson Rajagukguk menilai pemerintah telah menempuh langkah strategis melalui pengendalian inflasi, penguatan ketahanan eksternal, pengelolaan likuiditas, pendalaman pasar, dan penjagaan momentum pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, sinergi pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha serta daya beli masyarakat.
“Bagi saya sebagai ekonom, sangat baik,” ujar Wilson saat membahas arah kebijakan ekonomi nasional di Pancasila TV.
Selain stabilitas makroekonomi, Wilson menekankan pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang saling mendukung agar manfaat pertumbuhan menjangkau masyarakat luas.
Pengelolaan inflasi dan nilai tukar perlu diarahkan untuk menjaga kepastian perencanaan rumah tangga maupun dunia usaha, terutama dalam mengambil keputusan konsumsi, investasi, dan pembayaran kewajiban.
Ia juga menilai belanja negara untuk layanan publik, perlindungan sosial, dan bantuan pangan berperan sebagai penyangga ketika perekonomian menghadapi tekanan.
“Pertama-tama dua-duanya harus kompak,” kata Wilson, merujuk pada koordinasi otoritas fiskal dan moneter.
Lebih jauh, Wilson menilai hilirisasi industri merupakan agenda penting untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah sekaligus memperbesar nilai ekonomi sumber daya nasional.
Pengolahan komoditas seperti mineral dan hasil perkebunan di dalam negeri dapat membuka peluang investasi, memperluas lapangan kerja, serta mendorong produksi barang bernilai tambah lebih tinggi.
Namun, keberhasilan agenda tersebut membutuhkan regulasi yang mendukung, akses pembiayaan, kepastian berusaha, dan pengawasan terhadap hambatan birokrasi.
“Pemerintah harus bertindak radikal hilirisasi,” ujar Wilson, seraya menekankan perlunya membangun industri pengolahan dan memperkuat daya saing produk Indonesia.
Pada akhirnya, Wilson mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi jangka panjang tidak cukup bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga bergantung pada kualitas manusia dan produktivitas tenaga kerja.
Pemerintah perlu memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kompetensi SDM, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi pelaku usaha domestik maupun asing.
Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan mendukung produk lokal agar nilai ekonomi semakin banyak berputar di dalam negeri.
“Tugas kita adalah mendorong, membuat nilai tambah bagi semua,” tegas Wilson, seraya mengajak seluruh elemen bangsa menjaga stabilitas dan bekerja bersama menuju Indonesia yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing.






