Menu

Dark Mode
Presiden Prabowo Perintahkan Pengawasan Menyeluruh agar Program MBG Tetap Berjalan Pengawasan MBG Diperketat, Presiden Pastikan Tidak Ada Celah untuk Korupsi Presiden Prabowo Pastikan Program MBG Berjalan dengan Pengawasan Dapur yang Maksimal Pemerintah Terus Perluas MBG dan Prabowo Minta Masyarakat Bersabar Pemerintah Targetkan 80 Sekolah Garuda Transformasi Terbangun pada 2029 Pemerintah Gandeng PTN Bangun Ekosistem Sekolah Garuda

Berita

Ekonomi Indonesia Berpotensi Tumbuh 6–7 Persen di Momentum Krisis Energi Global

badge-check


					Ekonomi Indonesia Berpotensi Tumbuh 6–7 Persen di Momentum Krisis Energi Global Perbesar

JAKARTA – Lonjakan harga minyak global akibat dinamika geopolitik kembali menjadi perhatian. Namun di tengah tekanan tersebut, arah kebijakan nasional dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi. Krisis energi kini dipandang sebagai momentum untuk mengoptimalkan kekuatan sektor domestik.

Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menilai respons terhadap krisis perlu tetap rasional dan berbasis pengalaman ekonomi Indonesia.

“Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran cenderung berlebihan. Padahal dalam sejarahnya Indonesia sudah beberapa kali menghadapi situasi serupa dan tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi dengan memanfaatkan kekuatan domestik,” ujar Didik J Rachbini.

Fundamental ekonomi yang kuat dinilai menjadi modal utama. Indonesia memiliki keunggulan pada sektor sumber daya alam yang justru diuntungkan saat harga energi global meningkat, terutama pada komoditas ekspor.

Menurut Didik J Rachbini, krisis perlu dilihat sebagai peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan.

“Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis terdapat peluang besar, khususnya bagi negara yang memiliki basis sumber daya alam kuat seperti Indonesia,” tegas Didik J Rachbini.

Sektor seperti batubara, migas, panas bumi, hingga logam strategis dan perkebunan dinilai memiliki daya tahan tinggi. Struktur biaya domestik dan pendapatan ekspor dalam valuta asing membuat sektor ini mampu menjadi penopang ekonomi.

“Semua sektor tersebut basis inputnya domestik rupiah tetapi outputnya ekspor menghasilkan devisa, sehingga mampu menjadi bantalan kuat ketika terjadi tekanan global,” jelas Didik J Rachbini.

Selain itu, pengembangan energi alternatif seperti biofuel berbasis CPO turut memperkuat ketahanan energi nasional.

“Produk CPO berperan strategis sebagai substitusi energi biofuel yang mendukung ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah,” pungkas Didik J Rachbini.

Permintaan global terhadap komoditas logam juga diperkirakan tetap tinggi, terutama untuk kebutuhan industri masa depan seperti kendaraan listrik.

“Permintaan komoditas tetap tinggi bahkan meningkat saat krisis untuk memenuhi kebutuhan industri global, sehingga prospeknya tetap sangat kuat,” ungkap Didik J Rachbini.

Dengan penguatan hilirisasi dan kebijakan fiskal yang adaptif, peluang mendorong pertumbuhan ekonomi semakin terbuka lebar.

“Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk mendorong transformasi ekonomi sehingga pertumbuhan 6 hingga 7 persen dapat dicapai,” tutup Didik J Rachbini. (*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pengawasan MBG Diperketat, Presiden Pastikan Tidak Ada Celah untuk Korupsi

15 July 2026 - 09:57

Presiden Prabowo Perintahkan Pengawasan Menyeluruh agar Program MBG Tetap Berjalan

15 July 2026 - 09:57

Pemerintah Gandeng PTN Bangun Ekosistem Sekolah Garuda

15 July 2026 - 09:57

Pemerintah Targetkan 80 Sekolah Garuda Transformasi Terbangun pada 2029

15 July 2026 - 09:57

Implementasi B50 Diproyeksikan Serap 2,1 Juta Tenaga Kerja

15 July 2026 - 09:57

Trending on Berita