Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat sistem peringatan dini dan dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah antisipatif menghadapi fase kritis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada September 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi kering yang masih dominan, pengaruh El Niño, serta tingginya potensi karhutla terutama di Sumatera dan Kalimantan perlu menjadi perhatian bersama. BMKG memprediksi El Niño masih bertahan hingga awal 2027, sementara peluang hujan alami di sejumlah wilayah masih terbatas.
“Karena itu, periode September ini masih menjadi fase kritis yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama,” ujar Faisal.
Untuk memperkuat mitigasi, BMKG terus menyediakan informasi cuaca, iklim, kualitas udara, dan peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan pemerintah. Dukungan juga diberikan melalui OMC yang dilaksanakan bersama BNPB, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya.
“BMKG siap terus memberikan dukungan informasi, peringatan dini, dan layanan OMC berbasis kondisi atmosfer terkini,” kata Faisal. Menurutnya, penguatan informasi tersebut diharapkan membuat koordinasi dan mitigasi karhutla semakin cepat dan tepat sasaran.
Efektivitas pendekatan kolaboratif tersebut mulai terlihat di sejumlah daerah. Di Jawa Timur, OMC yang dilaksanakan bersama BMKG, Kementerian Kehutanan, BPBD, dan unsur terkait berhasil memicu hujan ringan hingga sedang di 11 titik pada enam kabupaten sasaran prioritas.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi hasil tersebut sebagai bagian dari upaya bersama menekan risiko karhutla dan kekeringan.
“Alhamdulillah, pelaksanaan OMC menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan melalui perangkat ARG, hujan terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran prioritas,” ungkap Khofifah.
Penguatan peringatan dini, pemantauan atmosfer secara real-time, dan OMC menunjukkan langkah mitigasi karhutla semakin diarahkan pada pencegahan yang terukur. Sinergi lintas sektor ini menjadi modal penting untuk melindungi masyarakat, menjaga kualitas udara, dan menekan dampak karhutla selama puncak musim kemarau.






