Menu ✖

Dark Mode
Pemerintah Perkuat Penyaluran Bansos Beras bagi Keluarga Membutuhkan Pemerintah Kawal Penyaluran Bansos Beras hingga Penerima Manfaat Musim Hujan Lebih Singkat, Semua Pihak Perlu Antisipasi Risiko Bencana Hidrometeorologi Bencana Hidrometeorologi Diwaspadai, BMKG Ingatkan Risiko Banjir dan Longsor Makin Dirasakan Manfaatnya, Kontribusi Hilirisasi terhadap Investasi Meningkat Kontribusi Investasi Hilirisasi Meningkat, Pemerintah Fokus pada Kualitas

Berita

Bencana Hidrometeorologi Diwaspadai, BMKG Ingatkan Risiko Banjir dan Longsor

badge-check


					Bencana Hidrometeorologi Diwaspadai, BMKG Ingatkan Risiko Banjir dan Longsor Perbesar

Jakarta – Pemerintah memperkuat kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seiring prakiraan meningkatnya hujan lebat hingga ekstrem pada akhir 2026 dan awal 2027. Penguatan peringatan dini, kesiapan pemerintah daerah, dan koordinasi lintas instansi menjadi langkah penting untuk mengantisipasi banjir dan tanah longsor serta melindungi keselamatan masyarakat.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengingatkan bahwa musim hujan diperkirakan mulai memasuki sejumlah wilayah pada November hingga Desember 2026, dengan puncak pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

Meski curah hujan secara umum diprakirakan berada pada kisaran normal, periode musim hujan yang lebih pendek berpotensi membuat hujan lebat terjadi lebih sering pada waktu tertentu. Karena itu, kesiapsiagaan perlu dimulai sebelum puncak musim hujan tiba.

“Sehingga nanti akan terjadi hujan lebat, sangat lebat hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan. Sehingga bencana meteorologi basah, yaitu banjir, longsor, itu juga perlu kita antisipasi dari mulai sekarang,” kata Faisal.

BMKG terus mendorong pemanfaatan informasi cuaca dan peringatan dini sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah mitigasi. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, kawasan cekungan, dan lereng perbukitan perlu memperhatikan kondisi lingkungan serta mengikuti pembaruan prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG. Langkah tersebut penting agar potensi bahaya dapat dikenali lebih awal dan keputusan evakuasi dapat dilakukan apabila diperlukan.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi menegaskan bahwa penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga TNI, Polri, serta masyarakat.

Menurutnya, koordinasi dan respons cepat diperlukan agar sumber daya dapat dikerahkan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Permasalahan bencana ini enggak bisa BNPB sendiri. Semua, ibaratnya kalau saya bilang itu, rope analogy, jadi kayak analogi tali tambang,” kata Kristomei.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan, pemerintah daerah didorong memeriksa saluran drainase, menyiapkan jalur evakuasi, memastikan tempat pengungsian dapat digunakan, serta memetakan lokasi rawan banjir dan longsor. Masyarakat juga diimbau tidak membuang sampah ke sungai, memperhatikan kenaikan debit air, dan segera menjauh apabila menemukan retakan tanah atau tanda pergerakan lereng.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pemerintah Perkuat Penyaluran Bansos Beras bagi Keluarga Membutuhkan

26 October 2026 - 01:24

Pemerintah Kawal Penyaluran Bansos Beras hingga Penerima Manfaat

26 October 2026 - 01:24

Musim Hujan Lebih Singkat, Semua Pihak Perlu Antisipasi Risiko Bencana Hidrometeorologi

26 October 2026 - 01:24

Makin Dirasakan Manfaatnya, Kontribusi Hilirisasi terhadap Investasi Meningkat

26 October 2026 - 01:24

Kontribusi Investasi Hilirisasi Meningkat, Pemerintah Fokus pada Kualitas

26 October 2026 - 01:24

Trending on Berita