Menu ✖

Dark Mode
2 Tahun Prabowo-Gibran, Pangan dan Energi Diperkuat hingga Pelosok   Dua Tahun Prabowo-Gibran Perkuat Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat Papua   2 Tahun Prabowo-Gibran, Pemerintah Dengarkan Masukan untuk Benahi MBG dan Kopdes   Dua Tahun Prabowo-Gibran, Utamakan Dialog dan Jaga Demonstrasi Tetap Damai   Dua Tahun Prabowo-Gibran, Aspirasi Buruh Naik Kelas Jadi Undang-Undang Dua Tahun Prabowo-Gibran, Masukan Penerima Manfaat Jadi Bahan Perbaikan MBG

Berita

Indonesia Perlu Belajar Menjaga Stabilitas dari Gejolak Nepal

badge-check


					Indonesia Perlu Belajar Menjaga Stabilitas dari Gejolak Nepal Perbesar

Jakarta, Gelombang demonstrasi di Nepal berakhir tragis dengan korban jiwa, kerusakan fasilitas negara, hingga pengunduran diri Perdana Menteri KP Sharma Oli. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi banyak negara, termasuk Indonesia, tentang pentingnya menjaga stabilitas politik dan merespons aspirasi publik dengan bijak.

Direktur Haidar Alwi Institut, Sandri Rumanama, menilai krisis Nepal patut dijadikan pembelajaran. Ia menekankan, meskipun kondisi Indonesia relatif stabil, kewaspadaan tetap dibutuhkan.

“Kita harus belajar dari kondisi Nepal hari ini. Sebagai negara demokrasi dengan tantangan ekonomi yang mirip, kita wajib bahu membahu menjadi satu kesatuan di tengah geopolitik global yang semakin tidak menentu,” kata Sandri.

Sandri mengingatkan, pemerintah dan aparat keamanan perlu selalu menjaga kesiapsiagaan. Menurutnya, langkah antisipatif penting agar potensi gesekan sosial tidak berkembang menjadi krisis.

“Pemerintah harus bersatu, dan aparat keamanan juga harus siap menghadapi potensi gejolak,” tegasnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menilai kerusuhan Nepal sebagai refleksi penting. Ia mencontohkan bagaimana kemarahan publik muncul akibat kebijakan pelarangan media sosial.

“Kemarahan publik telah membawa dampak besar perubahan,” ujar Sukamta.

Ia menekankan bahwa pejabat publik harus berhati-hati dalam bersikap dan berbicara agar tidak menyinggung masyarakat. Janji yang telah diucapkan juga harus diwujudkan dengan tindakan nyata.

“Transparan pada data dan anggaran,” ucapnya.

Sukamta juga menyoroti peran besar generasi muda, khususnya Gen Z, yang menjadi motor penggerak demonstrasi di Nepal. Generasi ini tumbuh di era digital, cepat menyerap informasi, serta peduli pada isu-isu yang menyangkut kehidupan mereka, seperti pendidikan, lapangan kerja, lingkungan, dan korupsi.

“Gen Z tidak suka basa-basi, karena mereka menginginkan keaslian, data yang jelas, dan kesempatan untuk berbicara,” katanya.

Sementara itu, Aliansi Pembangunan Kemanusiaan Indonesia (AP-KI) menyerukan agar setiap elemen bangsa mengutamakan dialog dalam menyelesaikan perbedaan. Sekretaris AP-KI, Kaimuddin, menegaskan, pentingnya generasi muda untuk menahan diri.

“Mari kita bersama-sama melindungi ruang publik, merawat solidaritas, dan menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan apa pun demi masa depan Indonesia yang damai dan bermartabat,” ungkapnya.

Gejolak di Nepal menjadi pelajaran penting. Indonesia yang saat ini relatif stabil tetap perlu merawat kepercayaan publik dan menjaga ruang dialog, agar tidak muncul kerentanan serupa di masa depan.***

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Aspirasi Buruh Naik Kelas Jadi Undang-Undang

19 October 2026 - 01:40

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Masukan Penerima Manfaat Jadi Bahan Perbaikan MBG

19 October 2026 - 01:40

Perbaikan Tata Kelola Karhutla Warnai Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

19 October 2026 - 01:40

Dua Tahun Prabowo-Gibran, 11 Proyek Hilirisasi IWIP Diproyeksikan Buka 10 Ribu Lapangan Kerja

19 October 2026 - 01:40

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pemerintah Dengarkan Aspirasi untuk Perkuat Koperasi Desa

19 October 2026 - 01:40

Trending on Berita