Menu

Dark Mode
Pemerintah Percepat Perluasan Jangkauan MBG di Papua Barat Daya BMP Desak Penegakan Hukum Tegas demi Lindungi Warga Sipil di Yahukimo Barisan Merah Putih Papua Pegunungan Serukan Persatuan, Kutuk Kekerasan terhadap Warga Sipil di Yahukimo Membangun Motor Listrik Nasional, Membangun Ekosistem Industri Masa Depan Motor Listrik Nasional dan Momentum Indonesia Berani Mandiri di Sektor Otomotif Motor Listrik Nasional Disiapkan sebagai Karya Anak Bangsa di Industri Otomotif

Berita

Tokoh Sepakat Tolak Provokasi “Indonesia Gelap”

badge-check


					Tokoh Sepakat Tolak Provokasi “Indonesia Gelap” Perbesar

Jakarta – Di tengah riuh narasi pesimisme yang menggambarkan kondisi nasional seakan “Indonesia gelap,” Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal dan Wakil Ketua Umum MUI Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, sepakat menolak provokasi tersebut dengan cara yang elegan dan konstruktif. Mereka menegaskan bahwa kritik harus ditempatkan dalam kerangka dialog dan mekanisme resmi, bukan sekadar retorika yang dapat memecah belah.

Cucun Ahmad Syamsurijal membuka pernyataannya dengan menegaskan pentingnya saluran resmi untuk menyampaikan aspirasi.

“Semua ini pemerintah lagi bekerja,” ujarnya, menegaskan bahwa berbagai kementerian dan lembaga saat ini tengah menuntaskan program prioritas nasional.

Menurut Cucun, tudingan bahwa pemerintahan sedang “gelap gulita” jauh dari fakta lapangan—di mana infrastruktur terus dibangun, kebijakan ekonomi dipercepat, dan program sosial diperluas.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kritik yang membangun justru akan memperkuat legitimasi pemerintahan. “

Kalau kritik jangan terlalu berlebihan sampai ke arah sana. Ada mekanisme,” kata Cucun, merujuk pada hak interpelasi dan rapat dengar pendapat di DPR RI.

Baginya, kritik yang “berlebihan” hingga menyeret isu pemakzulan hanya akan mengalihkan energi dari perbaikan substantif dan mengganggu stabilitas politik.

Di sisi lain, Dr. KH. Marsudi Syuhud menyoroti bagaimana narasi pesimisme kerap muncul saat ekspektasi masyarakat tidak sejalan dengan realita, terutama di tengah tekanan ekonomi global.

“Narasi pesimisme sering kali muncul saat ekspektasi masyarakat tidak sejalan dengan realita, terutama dalam kondisi tekanan ekonomi,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Menurut Marsudi, retorika “Indonesia gelap” bisa menjadi distraksi yang melemahkan semangat kolektif untuk bangkit.

Untuk itu, Marsudi menekankan pentingnya strategi komunikasi politik yang efektif.

“Komunikasi politik yang dijalankan saat ini telah mampu meredam narasi pesimisme dan ketakutan, karena narasi tersebut justru dapat memperlambat semangat pembangunan jika terus digulirkan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa MUI siap berkolaborasi dengan pemerintah dan media untuk menyebarkan narasi optimisme yang berbasis fakta.

Keduanya sepakat bahwa menolak provokasi “Indonesia gelap” bukan berarti menutup mata terhadap tantangan, melainkan menyikapinya dengan kritis, objektif, dan penuh harapan. DPR berkomitmen memperkuat mekanisme aspirasi masyarakat, sementara MUI akan mengadakan forum lintas agama untuk mempromosikan pesan kebangsaan dan kemajuan. Melalui sinergi ini, diharapkan energi publik dialihkan dari ketakutan ke partisipasi aktif dalam pembangunan. []

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

BMP Desak Penegakan Hukum Tegas demi Lindungi Warga Sipil di Yahukimo

27 July 2026 - 10:10

Pemerintah Percepat Perluasan Jangkauan MBG di Papua Barat Daya

27 July 2026 - 10:10

Barisan Merah Putih Papua Pegunungan Serukan Persatuan, Kutuk Kekerasan terhadap Warga Sipil di Yahukimo

27 July 2026 - 10:10

Motor Listrik Nasional Disiapkan sebagai Karya Anak Bangsa di Industri Otomotif

27 July 2026 - 09:03

Motor Listrik Nasional Didorong untuk Kurangi Ketergantungan pada BBM Fosil

27 July 2026 - 09:03

Trending on Berita