Menu ✖

Dark Mode
Masyarakat Diimbau Tidak Terprovokasi Pengibaran Bendera Bintang Kejora di USTJ Survei Catat Kepuasan Publik 79,3 Persen Jelang 2 Tahun Prabowo-Gibran Survei Soroti Kepuasan Publik atas Program Pro-Rakyat 2 Tahun Prabowo-Gibran Pemerintah Pastikan Verval Koperasi Merah Putih Tentukan Status Layak Operasional Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung Kesiapsiagaan Bencana Diperkuat Jelang Awal Musim Hujan

Berita

Tokoh Adat dan Agama di Papua Ajak Publik Tidak Terjebak Narasi Pesimisme Film Pesta Babi

badge-check


					Tokoh Adat dan Agama di Papua Ajak Publik Tidak Terjebak Narasi Pesimisme Film Pesta Babi Perbesar

PAPUA – Kemunculan film dokumenter Pesta Babi memunculkan polemik di masyarakat. Sejumlah tokoh adat, agama, dan pemuda Papua menilai film tersebut tidak menghadirkan gambaran utuh mengenai kondisi Papua saat ini. Film itu dianggap lebih menonjolkan narasi provokatif dibanding semangat pembangunan dan persatuan yang sedang dibangun bersama.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menegaskan bahwa pembangunan Papua dilakukan melalui pendekatan kesejahteraan, dialog, penghormatan budaya, dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

“Papua harus dibangun dengan pendekatan komprehensif yang mengedepankan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Djamari, pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga program ketahanan pangan guna membuka keterisolasian wilayah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Papua. Ia menilai Papua memiliki potensi besar sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru nasional.

Polemik film tersebut semakin menguat setelah tokoh perempuan adat Papua, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta, mengaku dirinya tidak memahami bahwa aktivitas yang diikutinya akan dijadikan bagian dari film dokumenter dengan narasi tertentu.

“Saya kecewa karena nama dan wajah saya dipakai tanpa penjelasan yang jelas,” katanya.

Mama Sinta menegaskan bahwa masyarakat Papua sebenarnya lebih membutuhkan pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan yang lebih baik dibanding terus disuguhi narasi konflik.

“Masyarakat Papua ingin hidup damai dan sejahtera,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC. Ia meminta masyarakat untuk bersikap kritis terhadap isi film tersebut.

“Papua tidak hanya bicara soal konflik, tetapi juga tentang persaudaraan, pembangunan, dan harapan masyarakat untuk maju,” tuturnya.

Tokoh pemuda Papua, Paulinus Ohee, juga mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh narasi provokatif yang dapat memecah belah masyarakat. Menurutnya, Papua membutuhkan stabilitas, persatuan, dan optimisme agar pembangunan berjalan maksimal dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat asli Papua.

Berbagai pihak menilai bahwa masa depan Papua harus dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, tokoh agama, dan generasi muda. Papua dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi wilayah yang maju, aman, dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. ***

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Survei Catat Kepuasan Publik 79,3 Persen Jelang 2 Tahun Prabowo-Gibran

30 September 2026 - 10:27

Survei Soroti Kepuasan Publik atas Program Pro-Rakyat 2 Tahun Prabowo-Gibran

30 September 2026 - 10:27

Pemerintah Pastikan Verval Koperasi Merah Putih Tentukan Status Layak Operasional

30 September 2026 - 10:27

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung

30 September 2026 - 10:27

Kesiapsiagaan Bencana Diperkuat Jelang Awal Musim Hujan

30 September 2026 - 10:27

Trending on Berita