Menu

Dark Mode
Peresmian BBM B50 Menjadi Tonggak Penguatan Transisi Energi Nasional RAPBN 2027 Ekspansif, Terukur, dan Tetap Prudensial RAPBN 2027 dan Jalan Transformasi Struktural Ekonomi Indonesia Resmikan Biodiesel B50, Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Swasembada Energi Presiden Prabowo Resmikan Program B50, Indonesia Perkuat Kemandirian Energi Presiden Prabowo Dorong Kemandirian Energi melalui Peluncuran Biodiesel B50

Berita

Program CKG Dorong Transformasi Layanan Kesehatan Lebih Preventif

badge-check


					Program CKG Dorong Transformasi Layanan Kesehatan Lebih Preventif Perbesar

Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus diperluas sebagai langkah memperkuat deteksi dini dan pencegahan penyakit di masyarakat. Program ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan publik sekaligus menekan beban pembiayaan penyakit katastropik yang terus meningkat.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan bahwa program CKG telah menjangkau sekitar 19 juta masyarakat sepanjang Januari hingga April 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,16 juta orang telah tercatat menjalani pengobatan dan manajemen penyakit setelah terdeteksi memiliki risiko kesehatan tertentu.

“Sekitar 1,16 juta di antaranya telah tercatat menjalani pengobatan dan pengelolaan penyakit,” ungkapnya.

Menurut Benjamin, program yang mulai berjalan sejak Februari 2025 itu pada dasarnya ditargetkan mampu menjangkau 70 juta masyarakat pada tahun pertama pelaksanaan. Target tersebut berhasil dicapai melalui kombinasi peserta CKG tahunan sebanyak 46 juta orang dan 24 juta peserta CKG sekolah.

“Tahun ini, kami berharap dapat menjangkau 150 juta masyarakat. Namun, tentu akan lebih baik jika pada akhirnya CKG bisa menjangkau seluruh masyarakat Indonesia ketika fasilitas kesehatan kita sudah lengkap,” jelas Benjamin.

Ia menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan rutin menjadi langkah penting dalam mendeteksi dini hipertensi, tuberkulosis, diabetes melitus, hingga persoalan status gizi masyarakat.

Selama ini, budaya pemeriksaan kesehatan berkala di Indonesia dinilai masih rendah karena masyarakat umumnya baru memeriksakan diri ketika hendak bekerja, menunaikan ibadah haji dan umrah, atau saat kondisi kesehatan sudah memburuk.

Padahal, berbagai penyakit katastropik yang selama ini membebani pembiayaan kesehatan nasional sesungguhnya dapat dicegah melalui deteksi dini serta penerapan pola hidup sehat yang konsisten.

Benjamin menyebut anggaran BPJS Kesehatan untuk penyakit katastropik terus mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun.

“BPJS Kesehatan mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk penyakit katastropik, padahal penyakit-penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah,” ujarnya.

Penguatan layanan kesehatan preventif menjadi bagian penting dalam membangun bangsa yang mandiri dan produktif. Dengan semakin banyaknya rumah sakit serta fasilitas kesehatan yang dibangun pemerintah, masyarakat diharapkan tidak hanya datang untuk berobat ketika sakit, tetapi juga memanfaatkan layanan deteksi dini dan pencegahan penyakit.

Program CKG sendiri saat ini telah diterapkan di puskesmas, sekolah, kementerian dan lembaga, serta berbagai komunitas masyarakat. #

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Resmikan Biodiesel B50, Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Swasembada Energi

10 July 2026 - 10:08

Presiden Prabowo Resmikan Program B50, Indonesia Perkuat Kemandirian Energi

10 July 2026 - 10:08

Skema Baru MBG Disiapkan Agar Program Lebih Efisien dan Tepat Sasaran

10 July 2026 - 10:08

RAPBN 2027, Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi tanpa Abaikan Stabilitas Nasional

10 July 2026 - 10:08

Target Pertumbuhan Optimistis, RAPBN 2027 Perkuat Daya Tahan Ekonomi Nasional

10 July 2026 - 10:08

Trending on Berita