Menu

Dark Mode
Peresmian BBM B50 Menjadi Tonggak Penguatan Transisi Energi Nasional RAPBN 2027 Ekspansif, Terukur, dan Tetap Prudensial RAPBN 2027 dan Jalan Transformasi Struktural Ekonomi Indonesia Resmikan Biodiesel B50, Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Swasembada Energi Presiden Prabowo Resmikan Program B50, Indonesia Perkuat Kemandirian Energi Presiden Prabowo Dorong Kemandirian Energi melalui Peluncuran Biodiesel B50

Berita

Direktur Eksekutif JAKATARUB: Bersama Jaga Stabilitas dan Kerukunan Selama Ramadan

badge-check


					Direktur Eksekutif JAKATARUB: Bersama Jaga Stabilitas dan Kerukunan Selama Ramadan Perbesar

Jakarta – Sudah tibanya bulan suci Ramadan, ajakan untuk menjaga kondusivitas sosial kembali mengemuka. Direktur Eksekutif Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB), Wawan Gunawan, mengingatkan pentingnya menjadikan Ramadan bukan hanya sebagai momentum ibadah, tetapi juga sebagai ruang memperkuat toleransi, keguyuban, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Wawan mengakui, praktik intoleransi masih terjadi di sejumlah daerah.

“Kita melihat ada banyak peristiwa tentang intoleransi di beberapa tempat seperti penutupan rumah ibadah atau pelarangan acara Natal. Kita tidak boleh menutup mata, itu memang terjadi di Indonesia. Tapi di sisi lain, ada juga banyak praktik baik yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Wawan Gunawan saat dialog secara daring di Jakarta selasa 17/02/2026.

Ia mencontohkan, di sejumlah wilayah terdapat masjid dan gereja yang hanya dipisahkan satu tembok, namun warganya saling bekerja sama membersihkan lingkungan. Di desa-desa, tradisi bersih desa saat Ramadan juga melibatkan seluruh pemeluk agama.

“Kepeduliannya sederhana, desa kami harus bersih. Bahkan saat Lebaran, mudik sekarang bukan hanya milik umat Islam. Saudara-saudara non-Muslim juga ikut menikmati libur Lebaran. Begitu pula saat Natal dan Tahun Baru, semua merasakan suasana liburan. Artinya, toleransi itu hidup di Indonesia, meski memang masih ada riak-riak,” jelasnya.

Menurut Wawan, bangsa Indonesia sejatinya mencintai harmoni. Perbedaan bukan hal baru, tetapi sudah menjadi bagian dari sejarah panjang kebangsaan. Tantangannya saat ini adalah berkurangnya ruang perjumpaan sosial akibat perubahan gaya hidup dan dominasi gadget.

“Dulu orang tua kita akrab dengan tetangga, anak-anak main bersama tanpa melihat perbedaan agama. Sekarang interaksi itu berkurang. Karena itu, momen-momen seperti ronda, arisan, makan bersama atau ngaliwet bareng perlu dihidupkan kembali. Itu bagian dari daya tahan sosial kita agar tidak mudah terprovokasi isu SARA,” tegasnya.

Dalam konteks Ramadan, Wawan mengajak umat Islam kembali pada makna hakiki puasa, yakni menahan diri dan memperhalus jiwa.

“Puasa itu menahan amarah dan hawa nafsu. Jangan sampai atas nama agama lalu melakukan persekusi, misalnya memaksa warung tutup. Kita harus ingat, ada orang yang memang diperbolehkan tidak berpuasa, seperti orang sakit, musafir, ibu hamil, atau lansia,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar Ramadan tidak justru meningkatkan produksi sampah dan pemborosan makanan. Wawan mengajak masyarakat menggalakkan “Green Ramadan”, yakni Ramadan yang ramah lingkungan.

“Belanja untuk buka dan sahur seperlunya. Jangan sampai puasa hanya memindahkan waktu makan, tapi porsinya malah berlipat dan sampah bertambah,” ujarnya.

Lebih jauh, Wawan memandang Indonesia sebagai hasil dari “puasa politik” para pendiri bangsa yang menahan diri demi persatuan dan memilih dasar negara Pancasila. Ia berharap semangat menahan diri itu kembali dihidupkan.

“Puasa harus membawa damai, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga bagi orang-orang di sekitar kita dan bagi alam. Jangan sampai kita berpuasa tapi marah-marah, atau menebar kebencian di media sosial,” katanya.

Ia juga mengajak generasi muda membangun narasi damai di ruang digital.

“Bangun percakapan yang membuat hidup lebih indah. Karena bahasa mencerminkan cara berpikir. Mari kita isi media sosial dengan pesan perdamaian dan spiritualitas yang jernih,” tambahnya.

Mengutip ajaran Nabi Muhammad, Wawan menegaskan bahwa Islam adalah ketika orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatan kita. Karena itu, segala perbedaan harus diselesaikan melalui musyawarah, bukan kekerasan.

“Ramadan harus menjadi berkah bagi semua, bukan hanya umat Islam. Mari kita sama-sama menjaga Indonesia, menjaga tensi sosial tetap sejuk, sekaligus menjaga bumi agar tetap lestari,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Resmikan Biodiesel B50, Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Swasembada Energi

10 July 2026 - 10:08

Presiden Prabowo Resmikan Program B50, Indonesia Perkuat Kemandirian Energi

10 July 2026 - 10:08

Skema Baru MBG Disiapkan Agar Program Lebih Efisien dan Tepat Sasaran

10 July 2026 - 10:08

RAPBN 2027, Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi tanpa Abaikan Stabilitas Nasional

10 July 2026 - 10:08

Target Pertumbuhan Optimistis, RAPBN 2027 Perkuat Daya Tahan Ekonomi Nasional

10 July 2026 - 10:08

Trending on Berita