Menu

Dark Mode
MBG Jadi Solusi Tingkatkan Kualitas Gizi dan Pendidikan Anak di Papua Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Papua Dukung Program MBG Perkuat Masa Depan Generasi Muda Ketua FKMP Papua Dukung MBG Sebagai Investasi Jangka Panjang Generasi Emas 2045 Tokoh Pemuda Papua Ajak Masyarakat Kawal Program Makan Bergizi Gratis MBG Papua Investasi Jangka Panjang Generasi Emas 2045 Presiden Prabowo Minta Aparat Tegas Mengusut Kasus Penyiraman Air Keras

Berita

Jaga Persatuan, Publik Diminta Tak Terprovokasi Narasi “Reset Indonesia”

badge-check


					Jaga Persatuan, Publik Diminta Tak Terprovokasi Narasi “Reset Indonesia” Perbesar

JAKARTA — Gerakan simbolik bertajuk “Indonesia Reset” kian marak disuarakan melalui media sosial dan ruang-ruang diskusi publik, memunculkan kekhawatiran sejumlah tokoh nasional terkait potensi pengaburan kepentingan nasional.

Narasi tersebut dinilai tidak sekadar menjadi ekspresi kritik semata, tetapi di balik hal itu sangat berisiko untuk dimanfaatkan sebagai alat provokasi yang jelas mengancam persatuan dan stabilitas bangsa.

Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menilai gagasan “Reset Indonesia” memiliki muatan risiko serius terhadap fondasi kebangsaan. Istilah ini sarat kepentingan asing dan kerap digunakan sebagai slogan dalam aksi protes tanpa kerangka konsep yang jelas.

“Reset” sering ditafsirkan sebagai dorongan perubahan radikal terhadap sistem politik, ekonomi, dan sosial, tanpa mempertimbangkan dampak instabilitas dan potensi disintegrasi,” jelas Gus Wal.

Gus Wal menegaskan bahwa sejarah Indonesia menunjukkan perubahan ekstrem tanpa pijakan nilai dan konsensus nasional justru membuka ruang konflik horizontal.

“Indonesia bukan sekadar negara administratif, melainkan rumah bersama yang dibangun di atas Pondasi Pancasila, UUD 1945, nilai nilai agama yang ada Indonesia dan semangat kebangsaan Indonesia yang Berbhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Ia juga menekankan prinsip Hubbul Wathon Minal Iman sebagai benteng moral bangsa.

“Hubbul Wathon Minal Iman bukan sekadar jargon, melainkan landasan teologis dan historis yang telah terbukti mampu mempersatukan bangsa Indonesia di tengah keberagaman agama, suku, dan budaya,” jelasnya.

Peringatan serupa juga disampaikan Direktur Lembaga Kajian Strategis dan Advokasi Nasional BEM PTNU, Arya Eka Bimantara yang menilai bahwa slogan “Reset Indonesia” berpotensi disalahgunakan oleh kelompok ekstrem atau separatis untuk menggerus fondasi negara.

“Indonesia bukan sekadar negara administratif, melainkan rumah bersama yang dibangun di atas fondasi nilai-nilai agama, Pancasila, dan semangat kebangsaan,” ujar Arya.

Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Addin Jauharudin, mengingatkan adanya perubahan pola intervensi asing dalam menghadapi kebangkitan Indonesia. Rekayasa opini dan manipulasi persepsi dinilai menjadi instrumen utama untuk menciptakan jarak antara masyarakat dan pemerintah.

”Jika ini dibiarkan, akan mengganggu kemajuan dan kemakmuran Indonesia,” ungkap Addin. (*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

MBG Jadi Solusi Tingkatkan Kualitas Gizi dan Pendidikan Anak di Papua

16 March 2026 - 18:00

Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Papua Dukung Program MBG Perkuat Masa Depan Generasi Muda

16 March 2026 - 18:00

Ketua FKMP Papua Dukung MBG Sebagai Investasi Jangka Panjang Generasi Emas 2045

16 March 2026 - 18:00

Tokoh Pemuda Papua Ajak Masyarakat Kawal Program Makan Bergizi Gratis

16 March 2026 - 18:00

Presiden Prabowo Minta Aparat Tegas Mengusut Kasus Penyiraman Air Keras

16 March 2026 - 17:57

Trending on Berita