Menu

Dark Mode
MBG dan UMKM: Wajah Ekonomi Kerakyatan yang Sesungguhnya MBG dan UMKM: Simbiosis yang Nyata Hasilnya Penegakan Hukum terhadap OPM Demi Keamanan Aktivitas Masyarakat Sinergi Negara dan Masyarakat Menjaga Stabilitas Papua Tekanan Global terhadap Rupiah dan Strategi Pemerintah Menjaga Stabilitas Pemerintah dan BI Satu Suara Jaga Rupiah

Opini

Indonesia Hadapi Tantangan Tarif Impor Trump dengan Kebijakan Ekonomi Berkelanjutan

badge-check


					Indonesia Hadapi Tantangan Tarif Impor Trump dengan Kebijakan Ekonomi Berkelanjutan Perbesar

JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus mengambil langkah strategis dalam menghadapi dampak kebijakan proteksionis yang digaungkan oleh Donald Trump, termasuk potensi pemberlakuan tarif impor tinggi terhadap sejumlah negara mitra dagang Amerika Serikat. Salah satu respons utama pemerintah adalah memperkuat kerja sama ekonomi internasional dan mempercepat penyelesaian perundingan dagang dengan berbagai mitra global.

Fokus saat ini tertuju pada percepatan penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA). Perjanjian ini dinilai sebagai solusi konkret di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global, khususnya akibat kebijakan unilateral dari Amerika Serikat. Dalam pertemuan virtual antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, disepakati pentingnya menjaga momentum perundingan dan menyelesaikan isu teknis yang tersisa.

“Kita sepakat untuk terus bekerja sama memanfaatkan momentum yang ada sembari menjunjung rule of law,” ujar Airlangga Hartarto.

Ia menambahkan bahwa I-EU CEPA bukan hanya membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia ke Eropa, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika kebijakan global yang tidak menentu.

“Penuntasan perundingan ini akan membuka lebih banyak peluang perdagangan dan investasi dengan negara-negara anggota Uni Eropa,” tegasnya.

Analis kebijakan ekonomi dari Apindo, Ajib Hamdani mengungkapkan bahwa situasi global yang semakin terfragmentasi akibat kebijakan proteksionis AS juga mendorong Indonesia untuk memperluas jaringan mitra dagang ke kawasan non-tradisional. Ajib menilai langkah ini sebagai kebijakan visioner.

“Ini saat yang tepat untuk memperkuat daya saing dan membangun ekosistem bisnis yang efisien dan berbiaya rendah. Penguatan kerja sama lintas kawasan juga akan memberi dampak signifikan dalam menjaga stabilitas ekspor nasional,” ujarnya.

Dari sisi pelaku usaha, dukungan juga mengalir. CEO PT Oxytane Mitra Indonesia, Syofi Raharja, mendorong kalangan industri untuk lebih proaktif dalam menjajaki pasar baru yang belum terdampak konflik dagang.

“Kalau produk kita berkualitas, dinamika seperti perang dagang tidak akan jadi masalah besar,” tuturnya.

Langkah-langkah diplomasi dagang dan strategi diversifikasi ini menandai komitmen Indonesia untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus menunjukkan kesiapan menghadapi tantangan global dengan pendekatan yang adaptif dan kolaboratif.

Pemerintah aktif mendorong diversifikasi pasar ekspor ke wilayah seperti Amerika Selatan, Afrika, hingga Asia Tengah sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju perekonomian yang lebih berkelanjutan. ()

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

MBG dan UMKM: Wajah Ekonomi Kerakyatan yang Sesungguhnya

12 March 2026 - 11:03

MBG dan UMKM: Simbiosis yang Nyata Hasilnya

12 March 2026 - 11:03

Penegakan Hukum terhadap OPM Demi Keamanan Aktivitas Masyarakat

12 March 2026 - 11:03

Tekanan Global terhadap Rupiah dan Strategi Pemerintah Menjaga Stabilitas

12 March 2026 - 11:03

Sinergi Negara dan Masyarakat Menjaga Stabilitas Papua

12 March 2026 - 11:03

Trending on Opini