Menu ✖

Dark Mode
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Jadi Prioritas Dua Tahun Prabowo-Gibran, Ketahanan Ekonomi dan Program Prioritas Jadi Modal Pembangunan Dua Tahun Pragib, Guru Besar UI Apresiasi Ketahanan Ekonomi dan Program Prioritas Lapangan Kerja Berkualitas dan Ketahanan Ekonomi Jadi Prioritas Pembangunan Nasional Guru Besar FEB UI: Penguatan Ekonomi Inklusif Jadi Kunci Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kerja Nyata untuk Rakyat Perkuat Fondasi Ekonomi Nasional

Berita

Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto Tuai Apresiasi Berbagai Kalangan

badge-check


					Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto Tuai Apresiasi Berbagai Kalangan Perbesar

Jakarta – Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, menuai apresiasi luas dari berbagai kalangan. Tokoh agama, pejabat publik, hingga akademisi menilai Soeharto layak mendapatkan pengakuan negara atas jasa dan pengabdiannya dalam menjaga stabilitas serta membangun bangsa.

Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh, menyatakan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang menghargai pemimpinnya.

“Setiap mantan presiden yang telah tiada layak diangkat sebagai pahlawan nasional. Mereka telah berjuang dan berkorban saat memimpin negeri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan hanya bersifat simbolik, tetapi juga menjadi momentum memperkuat nilai kebangsaan dan persatuan.

Asrorun Niam juga menilai pemberian gelar kepada Soeharto merupakan langkah bijak dalam meneguhkan semangat rekonsiliasi nasional.

“Masyarakat tidak boleh menyimpan dendam dan mengungkit keburukan masa lalu, karena tidak ada orang yang sempurna,” katanya.

Ia menambahkan bahwa setiap pemimpin bekerja di zamannya masing-masing, dengan tantangan dan keterbatasannya sendiri.

“Kita tidak bisa terus menilai masa lalu dengan kacamata masa kini. Memaafkan dan menghargai jasa adalah tanda kematangan bangsa,” tambahnya.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, juga memberikan pandangan serupa. Ia menegaskan tidak ada bukti yang menunjukkan Soeharto terlibat dalam peristiwa genosida 1965–1966.

“Tuduhan-tuduhan itu tidak pernah dibuktikan secara hukum maupun fakta sejarah yang valid,” ujarnya.

Menurutnya, penilaian terhadap tokoh bangsa harus berdasarkan data yang objektif, bukan stigma politik atau kepentingan tertentu.

Soeharto dikenal memimpin Indonesia selama 32 tahun dengan berbagai program pembangunan seperti Repelita dan GBHN yang menjadi fondasi kemajuan nasional.

Meski masa Orde Baru tidak lepas dari kritik, banyak pihak menilai bahwa kontribusinya harus dilihat secara menyeluruh dan proporsional.

Dukungan juga datang dari Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, yang menilai Soeharto sebagai tokoh penting dalam sejarah bangsa.

“Kita harus menilai sejarah secara proporsional. Soeharto berjasa besar bagi Indonesia, baik sebagai prajurit kemerdekaan maupun pemimpin pembangunan,” ujarnya, mengingatkan peran Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dipandang sebagai wujud penghormatan atas dedikasinya serta simbol kematangan bangsa dalam menghargai perjalanan sejarahnya. ***

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Jadi Prioritas

16 October 2026 - 06:12

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Ketahanan Ekonomi dan Program Prioritas Jadi Modal Pembangunan

16 October 2026 - 06:12

Dua Tahun Pragib, Guru Besar UI Apresiasi Ketahanan Ekonomi dan Program Prioritas

16 October 2026 - 06:12

Lapangan Kerja Berkualitas dan Ketahanan Ekonomi Jadi Prioritas Pembangunan Nasional

16 October 2026 - 06:12

Guru Besar FEB UI: Penguatan Ekonomi Inklusif Jadi Kunci Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

16 October 2026 - 06:12

Trending on Berita