Menu

Dark Mode
Mengapresiasi Capaian Pangan Prabowo-Gibran, Merawat Stabilitas dan Menolak Provokasi Pemerintah Perkuat Agenda Penyelesaian Kasus HAM, Masyarakat Jangan Terjebak Provokasi Masyarakat Dukung Kebijakan Pro-Buruh Prabowo, Tegaskan Sikap Tolak Provokasi Pemerintah Terus Benahi Berbagai Masalah, Penyampaian Aspirasi Jangan Dikotori Provokasi Menko Pangan Tegaskan: Pemerintah Perkuat Dukungan Terhadap Petani dan Nelayan Pemerintah dan DPR Buka Ruang Aspirasi, Buruh Bisa Kawal RUU Ketenagakerjaan

Berita

Ekonomi RI Dinilai Resilien, Sistem Keuangan Kuat dan Berdaya Tahan

badge-check


					Ekonomi RI Dinilai Resilien, Sistem Keuangan Kuat dan Berdaya Tahan Perbesar

JAKARTA — Perekonomian Indonesia dinilai memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi. Stabilitas makroekonomi, kondisi perbankan yang solid, serta investasi yang terus bergerak menjadi sejumlah faktor yang menopang ketahanan ekonomi nasional sepanjang 2026.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro mengatakan sistem keuangan Indonesia tetap kuat di tengah meningkatnya tekanan dan dinamika global. Menurutnya, ketahanan tersebut ditopang fundamental ekonomi yang memadai sekaligus kemampuan sistem keuangan beradaptasi terhadap perubahan.

“Layaknya akar bambu yang kokoh untuk bertahan menghadapi tekanan namun lentur mengikuti arah angin, demikian pula sistem keuangan kita dengan fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi guncangan, namun tetap responsif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi,” ujar Solikin.

Solikin menjelaskan, resiliensi sistem keuangan perlu diwujudkan melalui kemampuan membaca perubahan global, memperkuat sinergi antarlembaga, beradaptasi terhadap perkembangan, serta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kerentanan. Ketahanan sistem keuangan juga perlu diarahkan untuk memperkuat pembiayaan bagi kegiatan ekonomi produktif.

BI terus memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong intermediasi perbankan ke sektor produktif dan prioritas. Penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan implementasi program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) menjadi bagian dari upaya tersebut dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Ketahanan sektor perbankan tercermin dari kondisi permodalan dan risiko kredit yang tetap terjaga. Pada Juni 2026, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan tercatat 23,70 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada pada level 2,09 persen secara bruto dan 0,82 persen secara neto.

Dari sisi perekonomian, Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz memperkirakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026. Investasi, belanja pemerintah, aktivitas domestik, serta pengembangan sektor hilirisasi dan ekonomi digital disebut menjadi penopang pertumbuhan.

“Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global,” kata Irman.

Meski demikian, risiko eksternal tetap perlu diantisipasi, termasuk volatilitas pasar keuangan, perubahan kebijakan moneter global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan transaksi berjalan. Penguatan pasar valuta asing domestik menjadi salah satu langkah untuk menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan daya tahan ekonomi nasional.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Menko Pangan Tegaskan: Pemerintah Perkuat Dukungan Terhadap Petani dan Nelayan

23 September 2026 - 02:12

Pemerintah dan DPR Buka Ruang Aspirasi, Buruh Bisa Kawal RUU Ketenagakerjaan

23 September 2026 - 02:12

Pemerintah Percepat Pembangunan Papua, Masyarakat Harus Jaga Kondusivitas

23 September 2026 - 02:12

Mahasiswa Apresiasi Kebijakan Transformatif Pemerintahan Prabowo-Gibran

23 September 2026 - 02:12

Komitmen Pemerintah Tangani Pelanggaran HAM Terus Berjalan, Masyarakat Diajak Jaga Kedamaian

23 September 2026 - 02:12

Trending on Berita