Menu ✖

Dark Mode
Perpres Perkuat Tata Kelola, Koperasi Merah Putih Bersiap Jadi Simpul Ekonomi Desa Pemerintah Perkuat Kopdes Jadi Simpul Distribusi Barang Subsidi di Desa Pemerintah Percepat Operasional Kopdes di Papua, Produk Lokal Didorong Naik Kelas Kopdes Merah Putih Buka Jalan Ekspor, Komoditas Desa Tembus Pasar Dunia Pemerintah Dorong Penguatan KDMP, KADIN Libatkan Dunia Usaha 23 Ribu Bangunan Rampung, Kopdes Merah Putih Bersiap Gerakkan Ekonomi Desa

Berita

Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif Hadapi Dampak Krisis Iklim pada Pertanian

badge-check


					Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif Hadapi Dampak Krisis Iklim pada Pertanian Perbesar

Jakarta – Pemerintah mempercepat berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak krisis iklim terhadap sektor pertanian nasional. Antisipasi dilakukan sejak dini melalui penguatan infrastruktur irigasi, percepatan program pompanisasi, serta pemanfaatan teknologi pertanian agar produksi pangan tetap terjaga di tengah ancaman musim kemarau dan fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah memilih mengambil langkah preventif sebelum dampak kekeringan meluas. Menurutnya, pengalaman menghadapi El Nino pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa mitigasi harus dilakukan sejak awal agar petani tidak kehilangan musim tanam dan target swasembada pangan tetap terjaga.

Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu kami mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman, ujar Amran.

Selain mempercepat penyaluran pompa air, pemerintah juga melakukan rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan, serta pemanfaatan teknologi pertanian untuk menjaga produktivitas. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika perubahan iklim.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan menghadapi musim kemarau yang lebih kering akibat penguatan fenomena El Nino.

Berdasarkan pemantauan BMKG, curah hujan di banyak wilayah diproyeksikan berada di bawah kondisi normal pada periode Juli hingga Oktober 2026 sehingga sektor pertanian perlu meningkatkan kesiapsiagaan.

Pada periode Juli hingga Oktober 2026 nanti, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada kisaran bulan Juli hingga September, kata Ardhasena.

BMKG juga mengimbau petani dan pemerintah daerah melakukan berbagai langkah adaptasi, mulai dari penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan, hingga diversifikasi komoditas pangan. Informasi prakiraan iklim akan terus diperbarui secara berkala agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di lapangan.

Bagi sektor pertanian, beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan antara lain penyesuaian jadwal tanam, optimalisasi penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering serta berumur genjah, hingga pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan, pungkasnya. (*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pemerintah Dorong Penguatan KDMP, KADIN Libatkan Dunia Usaha

27 September 2026 - 12:15

23 Ribu Bangunan Rampung, Kopdes Merah Putih Bersiap Gerakkan Ekonomi Desa

27 September 2026 - 12:15

Pemerintah Siapkan Anggaran Koperasi Merah Putih, Pembayaran Dijamin Transparan

27 September 2026 - 12:15

Pemerintah Optimistis Penempatan Manajer Kopdes Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Desa

27 September 2026 - 12:15

KDMP Diperluas Bertahap di Papua Tengah, Kesiapan Wilayah Jadi Prioritas

27 September 2026 - 12:15

Trending on Berita