Menu ✖

Dark Mode
Topeng Perjuangan dan Air Mata Perempuan Jila Presiden Prabowo Beri Subsidi Haji 2027 untuk Ringankan Beban Jemaah Pemerintah Ringankan Beban Pelunasan Jemaah lewat Subsidi Haji 2027 Pemerintah Siapkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Berkapasitas 7 GW Listrik Tenaga Nuklir Digarap Bertahap untuk Perkuat Bauran Energi Nasional Pemerintah Siaga Hadapi Bencana Hidrometeorologi saat El Nino Masih Mengintai

Berita

Reformasi Jilid II Tidak Relevan, Indonesia Dinilai Masih Jauh dari Krisis 1998

badge-check


					Reformasi Jilid II Tidak Relevan, Indonesia Dinilai Masih Jauh dari Krisis 1998 Perbesar

Jakarta – Wacana yang mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah dengan kemungkinan terjadinya Reformasi Jilid II dinilai tidak relevan karena tidak memiliki dasar kuat. Analis Politik dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Kristian Widya Wicaksono menegaskan, kondisi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan situasi krisis multidimensi yang terjadi pada 1998.

“Secara ilmiah, kondisi tahun 2026 tidak bisa disamakan dengan krisis hebat tahun 1998,” kata Kristian.

Menurut Kristian, meskipun Indonesia tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat dinamika global, kondisi tersebut belum dapat disamakan dengan krisis yang memicu perubahan politik besar hampir tiga dekade lalu. Ia menilai berbagai indikator ekonomi dan stabilitas nasional masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

“Indonesia saat ini sedang berada dalam fase stres ekonomi yang berat, tetapi belum masuk dalam fase kehancuran makro seperti 1998,” jelasnya.

Krisis 1998 terjadi akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari runtuhnya sistem keuangan, lonjakan inflasi, gelombang pemutusan hubungan kerja, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.

“Pada 1998, Indonesia mengalami krisis sistemik dengan kontraksi ekonomi mencapai 10-15 persen dan inflasi melampaui 80 persen,” ungkap Kristian.

Kristian menjelaskan, pemerintah saat ini masih memiliki instrumen kebijakan fiskal dan moneter yang relatif kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Kondisi makroekonomi saat ini menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Bank Indonesia masih melaporkan surplus perdagangan yang berkelanjutan dan inflasi yang relatif tetap terkendali dalam kisaran sasaran, meski di tengah tekanan yang meningkat,” katanya.

Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh narasi yang membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1998 secara langsung. Menurutnya, tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia perlu disikapi secara rasional dan berbasis data, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat.

Secara keseluruhan, kondisi Indonesia saat ini masih berada dalam koridor yang terkendali meskipun menghadapi tekanan ekonomi global. Berbagai indikator menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap lebih kuat dibandingkan periode krisis 1998, sehingga narasi yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan peluang terjadinya Reformasi Jilid II dinilai belum memiliki landasan yang memadai dan berpotensi menyesatkan persepsi publik. [-RWA]

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Presiden Prabowo Beri Subsidi Haji 2027 untuk Ringankan Beban Jemaah

12 October 2026 - 09:51

Pemerintah Ringankan Beban Pelunasan Jemaah lewat Subsidi Haji 2027

12 October 2026 - 09:51

Pemerintah Siapkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Berkapasitas 7 GW

12 October 2026 - 09:51

Listrik Tenaga Nuklir Digarap Bertahap untuk Perkuat Bauran Energi Nasional

12 October 2026 - 09:51

Pemerintah Siaga Hadapi Bencana Hidrometeorologi saat El Nino Masih Mengintai

12 October 2026 - 09:51

Trending on Berita