Menu

Dark Mode
PSN Merauke Percepat Kemandirian Pangan, Tingkatkan Kemajuan Papua PSN Merauke Perkuat Ketahanan Pangan Nasional dan Percepat Kesejahteraan Masyarakat Papua Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Berkualitas di Papua Sekolah Rakyat Papua Perluas Akses Pendidikan Berkualitas Tolak Unjuk Rasa yang Mengancam Stabilitas, Perkuat Persatuan Bangsa Jangan Biarkan Provokasi Berkedok Unjuk Rasa Mengganggu Stabilitas Nasional

Opini

Swasembada Pangan Era Presiden Prabowo Jadi Modal Hadapi Tantangan Global

badge-check


					Swasembada Pangan Era Presiden Prabowo Jadi Modal Hadapi Tantangan Global Perbesar

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras kembali menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang pembangunan sektor pangan nasional. Capaian ini bukan sekadar prestasi statistik atau keberhasilan sesaat, melainkan fondasi strategis menuju ketahanan pangan yang lebih luas, berkelanjutan, dan inklusif. Di tengah tantangan global berupa perubahan iklim, ketidakpastian geopolitik, hingga fluktuasi harga pangan dunia, swasembada beras menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kapasitas dan kemandirian untuk menjaga kebutuhan pangan pokok rakyatnya.

Keberhasilan swasembada beras yang dicapai saat ini merupakan hasil dari kebijakan terpadu lintas sektor. Pemerintah mendorong peningkatan produksi melalui perbaikan tata kelola pertanian, penyediaan benih unggul, pupuk bersubsidi yang lebih tepat sasaran, serta modernisasi alat dan mesin pertanian. Di sisi lain, pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi secara masif memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama di sentra-sentra produksi padi.

Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan Indonesia kembali mencapai swasembada beras dalam acara Panen Raya dan Pencanangan Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat. Capaian tersebut diraih hanya dalam satu tahun, lebih cepat dari target awal pemerintah.

Presiden Prabowo mengatakan bahwa swasembada beras merupakan tonggak penting bagi kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Menurutnya, tidak mungkin sebuah negara benar-benar merdeka jika kebutuhan pangan rakyatnya masih bergantung pada negara lain.

Presiden Prabowo menjelaskan, target swasembada awalnya dipatok dalam jangka waktu empat tahun. Namun, seiring konsolidasi kebijakan dan kerja keras seluruh jajaran, target tersebut dipercepat menjadi tiga tahun dan akhirnya berhasil dicapai hanya dalam satu tahun. Percepatan tersebut sebagai bukti kemampuan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri. Capaian swasembada beras bukan sekadar soal angka produksi, tetapi menyangkut harga diri dan kepercayaan diri nasional.

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional, Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Bulog tercatat 3,248 juta ton sampai penghujung tahun 2025. Hal ini membawa optimisme program intervensi pemerintah dapat terus ditingkatkan.

Presiden menegaskan capaian swasembada beras tidak terlepas dari kerja keras para petani di seluruh Indonesia. Petani sebagai tulang punggung ketahanan pangan sekaligus bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa.

Selain peran petani, Prabowo juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang memungkinkan kebijakan pangan dijalankan secara cepat dan terintegrasi.

Pemerintah berkomitmen tidak hanya mempertahankan swasembada beras, tetapi juga meningkatkannya dari tahun ke tahun. Tantangan seperti perubahan iklim dan cuaca ekstrem tetap ada, namun akan diantisipasi melalui penguatan produksi, ketersediaan sarana pertanian, serta perlindungan terhadap lahan pangan.

Prabowo menegaskan bahwa swasembada beras menjadi langkah awal menuju swasembada komoditas pangan lainnya. Setelah beras, pemerintah menargetkan swasembada jagung dan komoditas strategis lain sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Senada, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi mengatakan bahwa keberhasilan swasembada beras membuat Indonesia tidak lagi melakukan impor beras. Cadangan beras nasional saat ini terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Swasembada beras menjadi pijakan awal menuju target yang lebih besar, yakni swasembada pangan secara menyeluruh.

Pemerintah tidak ingin berpuas diri dengan capaian saat ini. Meski cadangan beras di Bulog saat ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, namun pemerintah akan tetap mewaspadai risiko penurunan produksi akibat cuaca dan iklim.

Terkait dengan menjaga keberlanjutan produksi, pemerintah fokus pada sejumlah faktor kunci seperti ketersediaan pupuk, perbaikan irigasi, intensifikasi pertanian, serta pengembangan benih yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI Bambang Purwanto mengatakan capaian swasembada beras pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan prestasi yang patut diapresiasi. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti awal terwujudnya Asta Cita Presiden Prabowo di sektor pangan nasional.

Bambang optimistis, apabila berbagai persoalan di sektor pertanian dapat ditangani secara komprehensif dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas produksi, maka keberlanjutan swasembada beras dapat terjaga dan sektor pertanian nasional kembali diminati generasi muda sebagai penerus pembangunan pertanian Indonesia.

Pemerintah menempatkan ketahanan pangan sebagai bagian dari strategi besar pembangunan nasional. Ketahanan pangan yang kuat akan mendukung stabilitas ekonomi, memperkuat ketahanan nasional, serta meningkatkan posisi tawar Indonesia di kancah global. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan lebih mandiri dalam mengambil keputusan strategis, tanpa terlalu terpengaruh tekanan eksternal.

Partisipasi masyarakat dan dunia usaha juga menjadi faktor penting dalam memperluas ketahanan pangan. Kolaborasi antara petani, koperasi, BUMN, swasta, dan lembaga riset perlu terus diperkuat. Inovasi di bidang benih, teknologi pascapanen, hingga distribusi digital dapat mempercepat terwujudnya sistem pangan yang efisien dan berdaya saing.

Dengan demikian, swasembada beras yang telah dicapai saat ini merupakan pijakan strategis menuju ketahanan pangan nasional yang lebih luas dan tangguh. Keberhasilan ini harus dijaga dan ditingkatkan melalui kebijakan yang konsisten, berbasis data, dan berpihak pada petani serta rakyat. Dengan fondasi yang kuat di sektor beras, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem pangan yang mandiri, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan masa depan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Menjaga Iklim Investasi melalui Stabilitas Nasional dan Ruang Demokrasi yang Bertanggung Jawab

14 July 2026 - 10:13

Stabilitas Nasional di Atas Segalanya, Menjaga Ruang Demokrasi dari Provokasi

14 July 2026 - 10:13

Penurunan Bunga Mekaar Dan Keberpihakan Negara Pada Usaha Mikro

14 July 2026 - 10:13

Dari 22 Persen ke 8 Persen: Mekaar dan Komitmen Melindungi Pelaku Usaha Mikro

14 July 2026 - 10:13

CNG Merah Putih dan Jalan Baru Kemandirian Energi Nasional

14 July 2026 - 10:13

Trending on Opini